Senin, 05 Maret 2018 23:49 WITA

Opini

Regenerasi Kepemimpinan

Editor: Aswad Syam
Regenerasi Kepemimpinan
Direktur Sekolah Islam Athirah, Syamril

"SETIAP orang ada masanya, setiap masa ada orangnya". Kalimat ini merupakan ungkapan yang tepat untuk menggambarkan niat Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (JK), untuk tidak maju lagi pada pemilihan Presiden 2019 mendatang. 

Setelah cukup lama malang melintang di panggung politik nasional, yakni sejak era Presiden Gus Dur, maka di usianya yang memasuki 75 tahun, JK memilih mundur dari gelanggang.

Berkiprah hampir 20 tahun pada empat masa pemerintahan Presiden yang berbeda, tentu merupakan pengabdian yang luar biasa. Jabatan yang sempat ia sandang yakni Kepala Bulog dan Menteri Perdagangan di era Gus Dur. Lalu Menkokesra di era Megawati. Menjadi Wapres di era SBY, dan kembali menjadi Wapres di era Jokowi. 

Hasil survei menunjukkan, JK merupakan calon Wapres dengan elektabilitas paling tinggi. Namun, berdasarkan amanat UUD 45, hasil amandemen membatasi seseorang menjadi Wapres hanya dua periode. Jika tetap ingin maju di Pilpres, harus sebagai calon Presiden. 

Namun bukan hal itu yang membuat JK dengan kebesaran hati tidak ingin maju lagi di Pilpres. 

JK sadar "semua orang ada masanya". Usia dan masa pengabdian yang panjang membuat JK semakin matang. Sudah saatnya bagi JK untuk menjadi Guru Bangsa sebagai negarawan. Menjadi orang tua yang bijaksana bagi para generasi pelanjut selanjutnya. 

Hal lain yang juga disadari oleh JK, yakni, masa terus berganti dan tantangan zaman terus berubah. Perkembangan teknologi demikian cepat membuat cara manusia hidup, belajar dan bekerja juga berubah. 

JK yakin, di era sekarang dengan segala tantangannya, tentu akan lahir pemimpin baru yang lebih sesuai zamannya. Itulah makna ungkapan "setiap masa ada orangnya".

Bagi penulis, regenerasi kepemimpinan dalam organisasi termasuk negara adalah hal yang biasa. Sama halnya dengan regenerasi dalam kehidupan keluarga, merupakan sunnatullah atau hukum yang berlaku alamiah yang ditetapkan oleh Sang Pencipta, agar keberlangsungan kehidupan terus terjadi. 

Justru hal yang aneh jika tidak terjadi regenerasi, karena bisa mengakibatkan kepunahan umat manusia. Organisasi pun demikian, bisa punah jika tidak melakukan regenerasi. Sisi lain yang menjadi pertimbangan, perlunya regenerasi adalah sifat umum manusia yang mudah terjebak zona nyaman dan kelembaman.

Seorang yang menjabat lebih dari 10 tahun, ada kecenderungan untuk terjebak pada business as usual, hal yang biasa-biasa saja, rutin, kehilangan kreativitas, inovasi dan pembaharuan. 

Untuk itu, dibutuhkan penyegaran melalui rotasi, mutasi atau promosi. Jika belum naik tingkatan, maka rotasi dan mutasi yang harus dilakukan. Jika sudah saatnya untuk diberi tanggung jawab yang lebih tinggi, maka promosi yang dilakukan. 

Agar regenasi berjalan mulus, harus dipersiapkan melalui kaderisasi dengan program pembinaan dan pengembangan. Harapannya pada saat yang dibutuhkan generasi baru telah siap melanjutkan perjuangan. 

Jika pada tahap awal ada kegamangan itu hal yang biasa, asal jangan kelamaan. Seiring waktu yang semakin mendewasakan pada akhirnya akan stabil dan berjalan dengan penuh harapan.

Oleh: Syamril
Penulis adalah Direktur Sekolah Islam Athirah