Senin, 26 Februari 2018 16:17 WITA

Aksi Relawan Sekolah Kolong Langit di Maros

Editor: Adil Patawai Anar
Aksi Relawan Sekolah Kolong Langit di Maros

RAKYATKU.COM, MAROS - Aksi kelompok mahasiswa dari berbagai universitas di Makassar ini, sungguh inspiratif. Demi untuk menjadi relawan pengajar di sekolah pelosok, mereka rela menempuh jarak 60 kilometer. Aksi mereka ini menamakan, gerakan Sekolah Kolong Langit. 

Uniknya, mereka tidak dibiayai dari lembaga manapun. Secara sukarela, akomodasi perjalanan hingga makanan selama di lokasi, mereka tanggung sendiri. Meski untuk sampai ke lokasi pelosok yang mereka dampingi, terbilang cukup jauh dan butuh biaya besar.

Sejak tahun 2014, komunitas ini sudah memiliki 300-an relawan pengajar dari berbagai latar belakang kampus dan jurusan. Tahun ini, mereka mendapingi Sekolah Dasar Negeri 186 Inpres Bontomanai, Desa Laiya, Kecamatan Cenrana, Maros. 

Selain akses yang sulit, sekolah ini belum memiliki fasilitas ruang kelas tidak memadai. Karena hanya ada empat ruang kelas, beberapa murid dari kelas berbeda terpaksa digabung dalam satu ruangan yang hanya disekat tirai. 

"Sebenarnya sih bukan komunitas, kami namakan gerakan sekolah kaki langit. Tahun ini kita pilih di lokasi ini," kata koordinator lapangan Sekolah Kolong Langit angkatan 25, Anda Saga, Senin (26/2/2018). 

Komunitas ini memang hanya fokus pada pelajaran tambahan yang tidak diajarkan oleh guru. Mereka juga tidak hanya mengajar saat sekolah saja, tapi mereka juga mendampingi siswa belajar di rumah mereka masing-masing. Di sekolah ini, ada puluhan siswa yang harus berjalan kaki hingga lima kilometer untuk sampai ke sekolahnya. Mereka menempuh jalur yang tidak mudah, karena harus menyeberangi sungai dan melewati hutan. 

"Bukan hanya pada murid, kami juga berinteraksi dengan masyarakat setempat. Tak lain, mereka ingin agar para orang tua bisa berfikir agar anak-anak mereka tetap bersekolah meski dalam kondisi penuh keterbatasan. Buat apa juga kami mengajar, kalau orang tua mereka malah kurang peduli. Makanya, gerakan ini juga kita lakukan penyadaran ke para orang tua untuk mengutamakan pendidikan ke anaknya," ujarnya.

Sebelum pemberangkatan, SD Negeri 186 Maros memang sudah disurvey terlebih dahulu. Mereka memilih sekolah ini karena aksesnya yang sulit dan jumlah tenaga pengajarnya yang masih sedikit. Setiap kali ke lokasi, mereka menetap hingga lima hari dalam satu minggu. 

"Tahun ini merupakan lokasi pertama. Ada sekitar 40 orang relawan yang terlibat di dalamnya. Saat ini kami belum menentukan program pendampingannya karena kami masih tahap awal. Setiap lokasi, programnya disesuaikan dengan kebutuhan siswa," terangnya.

Di angkatan sebelumnya, mereka mendapingi sekolah pelosok yang ada di Kabupaten Barru dan Soppeng, Sulawesi Selatan. Selama satu tahun, mereka melakukan pendampingan agar anak-anak dapat mengenyam pendidikan lebih layak.