Minggu, 25 Februari 2018 14:35 WITA

Resensi Buku

Arsunan Mengalir Melintasi Zaman

Editor: Aswad Syam
Arsunan Mengalir Melintasi Zaman
Buku karya Arsunan: Mengalir Melintasi Zaman

TUALANG Arsunan Arsin, di sini, berkisah era yang berlalu. Ini literasi magis! Peletakan gaya bahasa, tak berjarak antara penulis dan pembaca. Prosesor bahasa di buku ini amatlah bersahaja. Tak rumit! Kemasan kalimat putra Andi Arsin-Sumarti Hasanuddin ini, tiada perlu memaksa kening pembaca dalam kerutan. Tak perlu luangan waktu khusus untuk menyiangi buku ini, cukup duduk relaks dan pembaca akan memapasi aksi Arsunan Arsin dalam mogok makan, tak mogok minum. Ini kelucuan dalam serius dan keseriusan
dalam lucu (Hal.81).

Hadir ragam gerakan ide, langgam dinamika dus tanggungjawab atas deretan tindakan Arsunan Arsin, di masa nan lalu. Pulalah, terkuak kisah lemparan liar sepatu Hasan Walinono ke sekauman mahasiswa dalam prosesi posma. Sang rektor dalam murka! Ada parodi di sini, musabab sepatu rektor disetengahtiangkan, sepatu itu raib tak berimba. Sayang, tak seorangpun memuseumkan sepatu berkandung sejarah di era "G-80-an" itu.

Buku bergenre autobiografi ini, dihantar sekaligus bikin bangga Rektor Universitas Hasanuddin: "Berpikir Merawat Impian", tulis Prof.Dr.Dwia Aries Tina Pulubuhu, di buku itu selaku apresiasi kepada penulis. Pada ruas-ruas buku ini, seolahlah penulisnya melontar pesan; setiap insan telah siaga arung samudera hidup. Yang tertinggal ialah mau arungi sepenuh atau setengah hati!

Di halaman 70, pembaca akanlah tertegun, kala Arsunan terima aksara sarkas dari petinggi dekanat: "Arsunan itu brengsek tapi baik orangnya...". Aturan alam dan teori kesan - yang membekas adalah kata brengsek- bukan yang lain. Manusiawilah jikalau Alwy Rahman, pula meringkus ucapan itu di bait-bait indah di prolog buku ini. Ini salah satu peristiwa majas ironik di "Mengalir Melintasi Zaman". Mestinya Chunank –sapaan akrabnya- sudah game over and down di tempat itu. Peresensi ber-alhamdulillah karena ahli epidemiologi itu, tertemukan di sana, malah ada puisi telah sedang bersalin: "Meilan". Ini teknik lain Arsunan dalam berdemonstrasi. Terciduklah multi-talenta, ia bisa menjajal organisasi, bisa belajar serupa
mahasiswa lainnya, juga bisa bersentuhan dengan cinta-asmara bak pemuda lainnya. Katakanlah
itu Dilan 1980! Soe Hok Gie, pun begitu. Tiba sisi-sisi puitika pada dua tokoh mahasiswa
berlainan jaman itu. Chunank memang suka Gie, jua Rendra.

Bulan ini, Pebruari. Bulan lahirnya Himpunan Mahasiswa Islam (Lafran Pane). Arsunan
begitu dalam bergaul di zona Hijau-Hitam (HMI), amanah 'paper lepas' di saban Basic Training
A.Arsunan Arsin: Mengalir Melintasi Zaman, P3i Press, Januari 2018, 306 Halaman, HMI, ditanganinya di belantara kantuk peserta 'bastra'. Ia tetap saja nyalang mata, bisa jadi peserta pengkaderan dasar seperti Taruna Ikrar, Arlin Adam ataupun lainnya dalam mata pasif, saat itu. Namun, Arsunan tuntaskan tugasnya, berharap menjadi cikal investasi pengetahuan, bakal calon mentalitas dan bekal nalar kepada generasi berikutnya. Impiannya terwujud, pungkas Prof.Dwia di semula resensi ini. 

Arsunan Mengalir Melintasi Zaman

Muh Arsyad Rahman

Generasi-generasi emas itu, membezuk Arsunan saat Program Pendidikan Magister di UNAIR-Surabaya. Pada perjumpaan itu, ada pesan heroik dari Arsunan ke Taruna Ikrar: "Kalau mau bertarung sebaiknya di ibu kota. Saya kira sudah cukup bekalmu untuk bertarung" (Hal.104-105).
Suami dari A.Aisyah S Haddade, ayah dari Agum Aripratama dan A.Anastasya Ariska
ini, tak digamit malu dalam pengakuan keterlambatan penyelesaian studi di Fakultas
Kedokteran Gigi, sisi lain ia memiliki potensi Ilmu Berhitung semasa SMA di Soppeng, ini
paradoksal baginya plus tertengger jiwa besar di sana. Tersirat lugu bahwa inipun bagian dari
Mengalir Melintasi Zaman bagai aliran Sungai Walannae di kampungnya, di sana. 

Bolehlah jadi, aliran-aliran semesta alam membuat Arsunan Arsin menderaskan arus-arus puisinya di koran
bernuansa percintaan ataupun sesembahan artikel berhalaun kesehatan masyarakat. Siapalah sangka jikalau di Sungai Walannae ditemukan fosil gajah purba (Elephas celebensis), ikan pari raksasa, buaya purba (Crocodylus sp), babi purba (Celebochoerus heekerani) hingga artefak batu. Fosil-fosil fauna vertebrata ini ditemukan pertama kali tahun 1947 oleh Hendrik Robert van Heekeren (arkeolog Belanda) di Kampung Beru jalan poros Cabenge-Pampanua, Soppeng. Buku itu pun, mencuatkan referensi ini!
Buku ini mendatangkan puluhan komentar, di permula Ketua Mahkamah Konstitusi RI
(2013-2015) Hamdan Zoelva hingga Baharuddin Burhan (Ketua Umum Korpala Unhas 1999-
2000). Pertanda buku ini potensi dijadikan bahan bacaan untuk meresponi kesan batin, tangkapan
pikiran kepada Prof.Arsunan Arsin, bahwa serupa itulah sosok original dalam sikap dan tindakantindakannya di lebih dan kurangnya. Setidaknya, ia telah melembagakan budaya tulis-menulis untuk dibagikan ke khalayak tentang dirinya, ilmunya, mimpi-mimpinya.

Sekalipun itu, bunga Adelweis yang termaktub di buku ini, rupa sisi kehidupan sosok Arsunan yang telah mengenal cinta berikut patah hatinya. Terhadap orang kebanyakan, berat menuliskan ini, nyawa ditarung di ketinggian puncak gunung tak terukur. Ia memetik bunga itu, atas pesan seseorang. Bersusah-susah menggapai bunga itu, berbalas layu tanpa penerima. Terhempas. "Karena ia bukan kekasihku," ucap Chunank.

Segala itulah tertuang dalam buku Mengalir Melintasi Zaman, ditulis oleh anak petani
desa, anak guru bersahaja bernama Prof. Arsunan Arsin.
---------------------------------------
Makassar, 5 Pebruari 2018
Peresensi: Muh.Arsyad Rahman
Program Doktoral Antropologi
Universitas Hasanuddin