Selasa, 06 Februari 2018 19:05 WITA

Kepala BSN Bawakan Kuliah Umum Standardisasi di STIE AMKOP 

Editor: Al Khoriah Etiek Nugraha
Kepala BSN Bawakan Kuliah Umum Standardisasi di STIE AMKOP 

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN), Prof Dr Bambang Prasetya, memberikan kuliah umum standardisasi dan penilaian kesesuaian di STIE AMKOP, Selasa (6/2/2018). 

Kegiatan ini digelar dengan tujuan untuk meningkatkan dan menciptakan kompetensi SDM berbasis standardisasi.

BSN mendorong perguruan tinggi untuk melakukan kegiatan peningkatan kompetensi di bidang standardisasi dan penilaian kesesuaian kepada dosen dan mahasiswa di Sulawesi Selatan. 

Kuliah umum yang dibuka langsung oleh Ketua STIE AMKOP, Bahtiar Maddatuang, ini merupakan kerjasama antara BSN melalui Kantor Layanan Teknis (KLT) BSN Makassar dengan Persatuan Dosen Kopertis Indonesia (PDKI).

Dalam kuliahnya, Bambang yang didampingi oleh Kepala Biro Perencanaan, Keuangan dan Tata Usaha BSN, Beni Nugraha, menjelaskan jika pendidikan standardisasi berbeda dengan standardisasi pendidikan. 

Pendidikan standardisasi adalah upaya untuk memberikan pengetahuan dan ilmu terkait dengan standardisasi dan penerapannya. Sehingga diharapkan mahasiswa yang akan memasuki dunia kerja memahami dan mampu menerapkan standar. 

“Kita harus menyamakan dulu persepsinya bahwa pendidikan standardisasi berbeda dengan standardisasi dalam pendidikan,” ujar Bambang. 

Kepala BSN Bawakan Kuliah Umum Standardisasi di STIE AMKOP Lebih lanjut Bambang memaparkan mengapa perlu pendidikan standardisasi di perguruan tinggi karena merupakan sumber SDM yang berkompeten dibidangnya yang berpotensi untuk berkontribusi dalam dunia standar. Selain itu Perguruan Tinggi juga sebagai sumber ilmu pengetahuan yang mampu menguasai teknologi, pasar, dan lingkungan kebijakan dengan cepat. Selain itu, Perguruan Tinggi dapat berkontribusi dalam penelitian berbasis standardisasi dan penilaian kesesuaian. 

“Di Perguruan Tinggi, banyak sekali tenaga ahli yang bisa dimaksimalkan untuk berkontribusi dalam pengembangan standar,” ungkap Bambang.

BSN membutuhkan SDM yang memiliki kompetensi terkait standardisasi untuk menjadi kepanjangan tangan di daerah. Mengingat luasnya wilayah Indonesia, peran dosen sebagai tenaga ahli sangat diperlukan, baik sebagai pakar keilmuan maupun perannya dalam menyampaikan ilmu standardisasi kepada para mahasiswanya. BSN membutuhkan banyak tenaga ahli untuk SNI ISO/IEC 17025 tentang persyaratan pengujian laboratorium; SNI ISO 14000 tentang Sistem Manajemen Lingkungan; SNI ISO 37001 tentang Sistem Manajemen Anti Penyuapan dan SNI ISO 22000 tentang standar sistem manajemen keamanan pangan untuk menjadi instruktur atau narasumber. 

“BSN juga membutuhkan tenaga untuk menjadi pembimbing UMKM dalam penerapan standar,” tutur Bambang.

Kepala BSN Bawakan Kuliah Umum Standardisasi di STIE AMKOP Sebagai tempat lahirnya SDM berkualitas, Perguruan Tinggi diharapkan menjadi jembatan utama antara generasi muda dengan dunia profesional dengan menghasilkan SDM yang paham tentang standardisasi sebagai nilai lebih dari lulusan Perguruan Tinggi. Dunia kerja sangat membutuhkan SDM profesional yang paham dan aplikatif dalam bidang standardisasi, minimal untuk SNI ISO 9001:2015. Sebagian besar organisasi telah menerapkan standar SNI ISO 9001:2015 dalam proses kegiatan bisnisnya.

 “Lulusan Perguruan Tinggi yang paham dan aplikatif dalam penerapan standar, pasti memiliki daya saing lebih tinggi untuk masuk kedunia bisnis,” tutup Bambang.

Dalam kesempatan ini, Kepala KLT BSN Makassar, Teguh Budiono, memberikan pembekalan kepada mahasiswa yang akan melakukan tugas Kuliah Kerja Nyata (KKN). Sebagai kaum intelektual, mahasiswa diajak untuk memahami dan mengaplikasikan penerapan standardisasi. Teguh mengharapkan saat melakukan kegiatan KKN, mahasiswa bisa membuat program pembimbingan kepada masyarakat dan UMKM untuk mengenalkan standardisasi dalam kegiatannya. Hal ini bisa dilakukan dimulai dari melihat potensi yang dimiliki oleh masyarakat, mulai dari pertanian, perikanan, perkebunan, hingga pangan olahan. Mahasiswa bisa membuat program untuk membantu meningkatkan usaha masyarakat, misalnya dengan membantu membuatkan prosedur dan pencatatan dokumentasi sehingga lebih teratur serta konsistensi produk tetap terjaga.

Pengenalan dapat dilakukan dari hal-hal yang sederhana seperti konsep 5 R (Ringkas, Rapih, Resik, Rawat dan Rajin) yang berdampak pada produktivitas. Dengan melakukan edukasi kepada masyarakat di tempat KKN, diharapkan mampu meningkatkan mutu dan produktivitas usaha sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Penerapan standar akan berdampak pada efisiensi, konsitensi mutu produk dan meningkatkan kapasitas produksi. 

“Sebagai agen perubahan, mahasiswa bisa melakukan perubahan kepada masyarakat dengan penerapan standar,” harap Teguh.