Rabu, 17 Januari 2018 16:06 WITA

TeleFiBi, Reportase ala Anak-anak di SD KoSamJa

Editor: Almaliki
TeleFiBi, Reportase ala Anak-anak di SD KoSamJa

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Reportase dengan gaya kekinian, tengah dikembangkan di SDN Kompleks Sambung Jawa (KoSamJa) Makassar. Sebanyak 20 anak dari kelas 4-6 yang sudah punya FB, dipersiapkan sebagai reporter cilik untuk melaporkan hasil pandangan matanya, seputar aktivitas mereka di sekolah, layaknya jurnalis televisi, melalui facebook (FB).

Olehnya, program ini diberi nama TeleFiBi, plesetan dari televisi. Sekolah yang berlokasi di Kecamatan Mamajang Kota Makassar ini memiliki jumlah siswa sebanyak 476 orang.

"TeleFiBi merupakan inovasi kami biar anak-anak cerdas dan bijak memanfaatkan medsos. Daripada mereka hanya gunakan untuk narsis yang tidak jelas, kami arahkan supaya postingan-postingannya lebih informatif, kreatif, dan produktif," papar Kepsek SDN Kompleks Sambung Jawa, Fahmawati, Rabu (17/1/2018). 

Selanjutnya, reportase anak-anak itu akan disiarkan dan diunggah melalui fanpage sekolah. Mengawali kegiatan ini, pihak sekolah menyelenggarakan in house training bagaimana melakukan kegiatan jurnalistik.

Fahmawati menambahkan, program TeleFiBi ini menjadi bagian dari program-program yang akan mendukung sekolah agar menerapkan konsep Sekolah Ramah Anak dan Sekolah Adiwiyata. Apalagi SD KoSamJa menjadi sekolah model, sehingga perlu inovasi pembelajaran yang lebih segar dan menyenangkan bagi anak dididik, bukan hanya di kelas dan sekolah, tapi juga di luar saat melakukan kunjungan lapangan.

TeleFiBi memanfaatkan berbagai fasilitas dan kemudahan yang disediakan oleh media sosial (medsos) yang populer di masyarakat. Medsos begitu akrab dengan kehidupan anak-anak. Mereka yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) bahkan sudah memiliki akun Facebook (FB) dan Instagram.

"Anak-anak itu memiliki gawai canggih, tapi tidak dibekali dengan arahan bagaimana pemanfaatannya secara cerdas dan bijak. Sehingga perlu dicarikan model pembelajaran yang relevan dan aktual dengan kehidupan anak-anak zaman sekarang," tambah Fahma.

Menurut Rusdin Tompo, konsultan program ini dari Lembaga Investigasi Studi Advokasi Media dan Anak (LISAN), TeleFiBi merupakan konsep sederhana untuk menerapkan kegiatan jurnalistik dan literasi media. Sejauh ini, kata aktivis LSM itu, sering didengar ungkapan internet sehat, tapi aplikasinya terkesan hanya berupa larangan. Misalnya, larangan mengakses situs-situs tertentu yang berdampak buruk pada anak.

"Nah, yang dilakukan ini sifatnya justru menyalurkan apa yang menjadi habit kids zaman now. Sehingga, anak-anak tetap bisa eksis di medsos, tapi lebih sehat, bermanfaat, dan bertanggung jawab. Intinya, anak-anak itu kan suka berswafoto, bikin video, dan membuat status-status. Nah, tinggal diarahkan saja agar punya muatan berita," jelas Rusdin Tompo.

"Jadi nanti anak-anak akan melakukan reportase tentang kegiatan belajar, berolah raga, kerja bakti, perpustakaan, kantin, taman-taman dan musalla yang ada di sekolahnya dalam sebuah format siaran yang lebih up to date."

Dikatakan, TeleFiBi juga merupakan cara menyiasati kondisi keterbatasan pihak sekolah yang tidak memiliki radio dan stasiun TV. Tapi nanti para jurnalis profesional akan diundang berbagi ilmu dan pengalaman, bentuknya seperti tutorial seputar dunia jurnalistiknya. Sesekali anak-anak bahkan diajak langsung ke kantor-kantor media agar mereka mendapat gambaran yang lebih nyata kesibukan awak media, baik koran, radio, maupun TV. 

"Kami juga merancang program KePo atau kenali profesi, untuk memberi inspirasi dan motivasi bagi anak-anak, biar anak-anak punya pilihan-pilihan profesi, sembari melakukan aktivitas jurnalistik," pungkas Rusdin Tompo yang pernah menjadi Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Daerah Sulawesi Selatan, periode 2011-2014 itu.