Kamis, 28 Desember 2017 18:03 WITA

Peneliti Nilai Nasionalisme Film Sang Kiai Ikuti Wisuda di UIN Alauddin

Editor: Andi Chaerul Fadli
Peneliti Nilai Nasionalisme Film Sang Kiai Ikuti Wisuda di UIN Alauddin
Peneliti nilai-nilai nasionalisme dalam film Sang Kiai, Marwah (tengah).

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar mengukuhkan 716 wisudawan-wisudawati angkatan ke-79 di Auditorium UIN, Kamis (28/12/2017). Pada kesempatan tersebut, peneliti nilai-nilai nasionalisme dalam film Sang Kiai, Marwah (21) meraih gelar Sarjana Ilmu Komunikasi, di Jurusan Jurnalistik, Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK). 

Mahasiswi asal Bone ini mengungkapkan, skripsi yang menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes tersebut diuji oleh salah satu pengamat komunikasi politik di wilayah Sulsel, Firdaus Muhammad. Serta beberapa penguji dan pembimbing skripsi lainnya yakni, Andi Fadli dan Muhammad Nur Latif.

Ia juga menjelaskan, penelitiannya ini di latar belakangi oleh maraknya, aksi-aksi sektarian, ekslusif dan dalam dikotomi negara dan agama yang sering terjadi akhir-akhir ini. Di samping itu, keadaan Indonesia memiliki kesan terpecah belah karena adanya suatu perbedaan.

“Film Sang Kiai sangat menginspirasi generasi zaman old dan zaman now. Mestinya ini menjadi kajian dan riset kaum muda, dalam mendorong pertemuan agama dan negara dengan sangat baik. Pendiri bangsa telah mencontohkan hal tersebut, terutama para ulama-ulama kiai," jelasnya, Kamis (28/12/2017).

Aktivis Komunitas Peduli Pemilu dan Demokrasi (KPPD) Sulsel ini menuturkan, film Sang Kiai membawa pesan yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia. Dimana, perlunya semua golongan, baik Islam, agama lain dan nasionalis dan seluruh komponen, bekerjasama untuk kemajuan bangsa. Bukan meruncingkan perbedaan.

“Dalam Film itu juga digambarkan Institusi pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional Islam di Indonesia, memiliki peran yang sangat penting dalam membangun gerakan yang bersifat keagamaan dan perjuangan bangsa. Kita bisa lihat sekarang bertapa banyak menteri di kabinet, berlatar belakang dari kalanagn santri dan masyarakat pesantren,” jelas Mahasiswa yang lulus dengan predikat sangat memuaskan itu.

Lebih lanjut, ia menuturkan, Sang Kiai menjadikan pesantren sebagai tempat penguatan keilmuan dan basis kekuatan untuk melawan penjajah, maka nasionalisme kiai dan santri di lingkungan pesantren tumbuh dan semakin menguat.

"Kiprah pesantren, ulama, kiai dan Islam cukup besar dalam menanamkan 'nasionalisme' Indonesia, karena para tokoh pergerakan nasional tidak dapat dilepaskan dari dunia pesantren dan spirit Islam," pungkasnya.