Minggu, 03 Desember 2017 12:02 WITA

Begini Keseriusan IYL Susun Disertasi Gelar Doktor di Unhas

Editor: Fathul Khair Akmal
Begini Keseriusan IYL Susun Disertasi Gelar Doktor di Unhas
Ichsan Yasin Limpo.

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Bukan Ichsan Yasin Limpo (IYL) namanya jika tak serius menggeluti setiap tanggung jawab yang diembannya. Ia pantang meminjam "tangan" orang lain untuk menyelesaikan haknya.

Selalu ada kegelisahan bila tugas dan tanggungjawabnya tidak berjalan baik. Itu sebabnya, tokoh peduli kemanusiaan di Indonesia versi UNHCR Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) ini, tak ingin menyia-nyiakan setiap waktu.

Keseriusan pelopor pertama Perda Pendidikan Gratis di Indonesia ini, tercermin dalam menjalankan kewajiban dan haknya sebagai mahasiswa program doktoral di Pasca Sarjana Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar.

Kendati disibukkan dengan berbagai aktivitas, terutama niatnya maju mewakafkan diri membangun Sulsel. Namun tak lantas membuat Ichsan menelantarkan tugas lainnya.

Bagi Mr Komitmen, julukan yang sering disematkan oleh banyak pihak yang kagum terhadap pendiriannya "taro ada, taro gau", apapun yang dijalankan tak boleh dilakukan setengah hati.

Sebab jika setiap pekerjaan dan tanggung jawab dijalankan setengah hati, maka yakin saja hasilnya kurang maksimal. Untuk itulah, mantan Bupati Gowa yang pernah menjadikan Gowa sebagai kabupaten pemerintahan terbaik kedua nasional, selalu bertekad memberikan hasil memuaskan.

Begini Keseriusan IYL Susun Disertasi Gelar Doktor di Unhas

Karena salah satu alasan itu, mantan anggota DPRD Sulsel ini tak ingin menyia-nyiakan statusnya sebagai mahasiswa program doktoral di Fakultas Hukum Unhas.

Semenjak tercatat sebagai mahasiswa hingga memasuki fase penyusunan disertasi, Ichsan memberi contoh, bahwa menuntut pendidikan bukan sekadar mengejar gelar semata. Lebih dari itu, bagaimana menggali banyak pengetahuan untuk memberi konstribusi bagi bangsa dan generasi kelak.

Ayah dari Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan ini, mungkin bisa saja "menempuh" jalur mudah untuk mendapatkan status gelar doktor. Tapi lagi-lagi, ia bukan tipikal yang hanya mau mendapatkan sesuatu yang instan.

"Saya melanjutkan pendidikan di pasca sarjana Unhas bukan karena mengejar gelar doktor. Tetapi saya mau menggali banyak pengetahuan untuk saya jadikan konstribusi bagi bangsa dan anak cucu kita ke depan," kata IYL dalam rilis yang diterima rakyatku.com, Minggu (03/12/2017).

Ichsan yang sudah melakukan penelitian di tujuh negara tentang penerapan pendidikan dasar, selama beberapa hari terakhir waktunya banyak tersita untuk persiapan ujian seminar hasil penelitian.

Jika tak ada aral melintang, Ichsan yang tercatat sebagai kepala daerah pertama di Indonesia yang menerapkan Sistem Kelas Tuntas Berkelanjutan (SKTB) di Gowa, menargetkan untuk ujian seminar hasil penelitian Desember tahun ini.

"Doakan semoga tidak ada kendala ujian seminar hasil bisa saya jalani Desember sebelum ujian tutup pra pomosi," tambah Ichsan yang juga berniat maju mewakafkan diri membangun Sulsel di Pilgub 2018 mendatang.

Sesuai rencana, Ichsan yang juga alumni terbaik Lemhanas, ditargetkan bisa melakukan ujian promosi doktor akhir bulan ini, atau paling lambat awal tahun depan.

Jauh sebelum fokus melakukan penyusunan disertasi, IYL terlebih dahulu banyak menghabiskan waktunya melakukan studi komparasi di tujuh negara yang konsep pendidikannya lebih maju.

Di setiap negara yang dijadikan lokasi penelitian, Ichsan tidak sekadar melakukan wawancara semata. Lebih dari itu, turun langsung mengamati dan berinteraksi di lapangan.

Di Finlandia misalnya yang pernah menjadi negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia, IYL benar-benar banyak menggali penerapan pendidikan dan kebijakan pemerintah.

Mulai tentang mata kurikulum, jam belajar, interaksi siswa dan guru, kualitas tenaga pendidik, fasilitas pendukung, alokasi anggaran, maupun dalam hal mengarahkan potensi yang dimiliki peserta didik.

Selain itu, di hampir semua negara yang dijadikan studi komparasi, IYL juga mendapatkan beberapa kesamaan seperti yang diterapkan di Gowa dengan tidak mengenal istilah tinggal Kelas.