10 October 2017 20:59 WITA

Citizen Report

Catatan Penelitian Pendidikan Ichsan Yasin Limpo di Finlandia

Editor: Fathul Khair Akmal
Catatan Penelitian Pendidikan Ichsan Yasin Limpo di Finlandia

STUDI komparasi tentang pendidikan dasar di tujuh negara memasuki masa perampungan. Satu negara yang saya ikut usulkan untuk dijadikan lokasi penelitian, yakni Finlandia, kini dalam proses pengambilan data di beberapa lokasi yang menjadi sampel selama dua hari terakhir.

Finlandia, sengaja saya masukkan sebagai salah satu negara tujuan penelitian. Histori tentang negara ini yang pernah menjadi bangsa tertinggal dan termiskin sekira puluhan tahun lalu, menjelma menjadi negara yang sistem pendidikannya terbaik di dunia selama beberapa tahun belakangan.

Itu sebabnya, saya sangat antusias mempelajari lebih dalam tentang sistem pendidikan di negara yang terletak di Eropa ini. Tak lengkap rasanya membahas dan meneliti tentang pendidikan dasar kalau tidak memasukkan Finlandia. Dan semua ini, bukan semata-mata untuk mengejar gelar doktor saya semata. Lebih dari itu, sebagai anak bangsa ingin memberi konstribusi perbaikan kualitas pendidikan, demi generasi kita kelak.

Alhamdullillah, bersama istri tercinta Hj Novita Madonza Amu, saya berkesempatan menginjakkan kaki di Finlandia, terhitung mulai Senin (09/10/2017) sore waktu setempat. Sebuah kebanggan tersendiri, bisa berkunjung di negara ini, apalagi mendapat ruang bisa berinteraksi langsung dengan guru dan siswa di sekolah yang menjadi lokasi penelitian. Termasuk sharing atau mendengar penyampaian dari pejabat berwenang tentang pendidikan di Helsinki Finlandia.

Dari studi komparasi ini, ada banyak hal bisa saya dapatkan, sekaligus semakin meyakinkan jika sangat tepat kalau Finlandia dijuluki sebagai negara terbaik untuk sistem pendidikannya. Bukan fasilitas sekolah semata, tapi perhatian dan keberpihakan serius pemerintahnya tentang pendidikan adalah faktor penting kenapa negara ini punya pembeda, khususnya dalam membandingkan sistem pendidikan di tanah air.

Dalam citizen report ini yang saya ketik setelah berkunjung ke salah satu sekolah setingkat SD, dan play group atau TK, akan mengurai beberapa temuan yang mencengangkan. Mulai soal kurikulum, fasilitas, jam belajar, proses belajar-mengajar di dalam kelas, hingga bagaimana perhatian pemerintah terhadap sektor pendidikan.

Untuk buku panduan, pemerintah tidak hanya menerbitkan untuk bacaan siswa semata, tetapi juga diperuntukkan ke orang tua. Bahasanya pun bukan pedagogi, atau bahasa yang sulit dicernah, melainkan menggunakan bahasa sehari-hari. Ini bertujuan memudahkan siswa maupun orang tua dalam membimbing anak di rumah.

Begitu pun mata pelajaran, cakupannya lebih besar. Subjek mereka bukan yang kuno, seperti matematika atau biologi dulu, tapi semua disesuaikan dengan tema Eropa. Alasannya, karena dunia tidak dikotak-kotakkan dalam mata pelajaran.  Dan target yang ingin dicapai, adalah siswa memperoleh skill untuk menghadapi tantangan dunia.

Untuk memperlancar ini, maka metode yang dipakai, bukan mengarahkan para guru untuk lebih banyak bicara dalam kelas. Tetapi memberi kesempatan kepada siswa untuk aktif, serta menciptakan suasana belajar mengajar yang bersahabat. Guru harus menempatkan diri sebagai orang tua, sekaligus teman dari siswanya.

Bukan hanya itu saja, tetapi ada metode baru lagi yang diterapkan. Namanya friend café. Metode ini, siswa senior mengajarkan ke murid yunior atau ke adik tingkatannya. Mereka saling berbagi pengetahuan melalui group yang dibentuk dengan tema tertentu. Hasilnya tergolong efektif, dan siswa lebih antusias.

Tentang ujian, pihak sekolah menerapkan setiap tahun. Hanya ujian ini bukan untuk siswa, tapi dikhususkan bagi guru untuk melihat standart sekolahnya, dan dinilai oleh dewan kurikulum provinsi. Hasilnya bukan untuk dipublish, melainkan dijadikan pegangan pihak sekolah dalam meningkatkan mutu. Begitu juga tidak ada istilah ujian nasional, akan tetapi yang diterapkan adalah grade dari 1 sampai  9 tahun. Itupun, pihak sekolah diberikan keleluasaan untuk menentukan atau merekomendasikan, kemana lebih tepatnya siswa melanjutkan pendidikannya, apakah kejuruan atau universitas.

Meski diberi keleluasaan, namun kadang-kadang pihak Nasional Education atau dinas pendidikan setempat mengecek langsung apakah setiap sekolah sudah memenuhi standart metode yang diterapkan. Biasanya dilakukan dalam lima tahun.

Khusus jam belajar, dalam satu tahun murid atau siswa di tingkat SD belajar 20 jam smapai 25 jam per minggu. Sementara bagi siswa di tingkat SMP waktu belajarnya adalah 30 jam per minggu. Dan jam belajar ini, berlaku bagi semua sekolah di Finlandia.  Tenaga pengajar, minimal S2 atau lulusan pasca-sarjana di perguruan tinggi.

Grade 1 dielementery school murid tak diajarkan membaca dan menghitung, mereka hanya bermain di sekolah. Di grade 2, ada pelajaran mate-matika. Itupun hanya simbol-simbol saja yang sederhana dalam menambah, mengurangi atau membagi. Nanti di grade 3 baru ada tujuh mata pelajaran, serta grade 9 hanya 5 mata pelajaran.

Lalu bagaimana perhatian pemerintah?  Kebijakan pemerintah secara nasional bertanggungjawab pada pedagogi. Sementara untuk sekolah dan pembiayaan pendidikan, semua menjadi kewenangan pemerintah kota dan provinsi, dan sama sekali tak ada campur tangan pemerintah pusat.

Pemerintah nasional hanya memberikan bantuan dalam bentuk proyek. Misalnya dalam pembatasan murid di kelas, pemerintah nasional bertanggungjawab merekrut atau mengadakan guru tambahan, agar proses belajar-mengajar bisa lebih maksimal. Lainnya, pemerintah nasional juga membantu mengadakan guru bagi siswa pendatang dari luar Finlandia. Di semua provinsi, tidak ada sekolah swasta.

Tak kalah pentingnya, setiap sekolah di Finlandia wajib ada psikolog, perawat, suster, serta pembimbing konseling. Dan setiap kelas, maksimal siswanya 25 orang. Satu mata pelajaran di kelas, ada dua guru serta satu guru magang yang praktek langsung.  Sementara jam istirahat, semua siswa diberikan makan siang secara gratis. Begitu juga, siswa disediakan transportasi antar-jemput, meski jarak rumah ke sekolah tergolong jauh maksimal 50 kilometer. Keberpihakan pemerintah juga terlihat soal undang-undang yang diberlakukan, yakni mewajibkan semua anak umur 7 sampai 16 tahun untuk menikmati pendidikan dasar.   

Dari hasil penelitian ini, tentu menjadi catatan tersendiri, bahwa menciptakan kualitas sumber daya manusia dibutuhkan keseriusan dan keberpihakan pemerintah. Kita harus mengakui, kualitas pendidikan kita masih kalah dari standar yang diterapkan di Finlandia. Tetapi kita tak boleh patah arang. Kita harus berbenah mengejar ketertinggalan. Dan jangan pernah malu untuk terus belajar.

"Sepanjang ada niat tulus dan keseriusan memperbaiki kualitas pendidikan kita, maka tak ada istilah terlambat. Untuk generasi muda dan pelanjut negeri, kita tak boleh berdiam diri. Hari ini mungkin kita masih tertinggal, tetapi untuk masa yang akan datang kita wajib pastikan sudah setara kualitasnya dengan negara-negara lain, termasuk Finlandia.  Dan kita punya modal untuk itu" (Ichsan Yasin Limpo)

Tags