Senin, 18 September 2017 09:13 WITA

Opini

Milad ke–51, dari Kohati untuk Indonesia

Editor: Almaliki
Milad ke–51, dari Kohati untuk Indonesia
Putri Utami Muis

Oleh: Putri Utami Muis, Ketua Kohati Badko SulselBar

”Torehan Tinta Seorang KOHATI ; Menilik Balik Cita – cita KOHATI”

2 Jumadil akhir 1386 H bertepatan dengan tanggal 17 September 1966 M, pada Kongers Himpunan Mahasiswa Islam yang ke VIII di Solo, Korps HMI-wati (KOHATI) lahir, berstatuskan ex-officio. Berfungi sebagai Bidang Pemberdayaan perempuan dan sebagai organisasi Mahasiswi, KOHATI hadir dengan segudang cita -cita, tanggung jawab dan perjuangan yang akan dihadapi. Mewujudkan tujuan KOHATI Terbinanya Muslimah (HMI-Wati) berkualitas insan cita” dan tujuan HMI merupakan pegangan awal hingga akhir selama KOHATI menapaki proses.

Kehadiran KOHATI sebagai “Laboratorium Individu” wadah pembinaan karakter dan peningkatan kualitas kader HMI-wati untuk menciptakan watak dan kepribadian yang teguh, kemampuan intelektual, kemampuan professional, mandiri serta tanggap akan masalah/issue keperempuanan. KOHATI juga membina perempuan–perempuan yang tergabung di dalamnya dapat menjadi muslimah seutuhnya, yaitu menjadi kualitas terbaik seorang putri bagi kedua orang tuanya, istri bagi suaminya, ibu bagi anaknya kelak, serta kualitas terbaik sebagai anggota masyarakat. Usia KOHATI hari ini menapakai usia 51 tahun, bak seperti manusia, KOHATI mulai memasuki masa lansia awal, jika diibaratkan seorang perempuan, KOHATI sudah mengalami fase menopause.

Meskipun usia menua, tantangan dan perjuangan berbeda–beda setiap tahunnya, tak ayal membuat kohati putus semangat. Hari ini semangat KOHATI masih sama, jika diibaratkan sama halnya dengan semangat ayunda Ida Ismail mengetuk palu sidang kongres HMI ke VIII di Solo, untuk mengesahkan berdirinya KOHATI.

Dekade ini, KOHATI di setiap cabang se-nusantara, bertransformasi menjadi KOHATI yang tanggap zaman, yang tanggap teknologi dan perubahan peradaban. KOHATI tak pernah tenggelam sampai saat ini, KOHATI masih ada dan masih tangguh berbenah diri--berfikir filosofis, bergerak merangkak, berdiri tegak dalam segi aksi, hingga menjamah seluruh bagian konstuktif ide kader KOHATI.

Proses kaderisasi training dan struktural tak pernah mengajarkan seorang KOHATI menjadi instan, tanggap segala isu kemanusiaan, pendidikan, kesehatan, ekonomi, sumber daya alam, politik dsb selalu menjadi pembahasan–pembahasan ringan, hingga KOHATI membentuk diri sebagai seorang yang peka.

Menyandang status mahasiswi, patutnya mendalami pengetahuan akan akademiknya. Hal ini selalu diikuti ruh keislaman yang dimiliki sehingga bermoral dan bernilai, yang selalu hadir untuk kebutuhan masyarakat.

Pengokohan integritas dan modifikasi gerakan yang saat ini KOHATI sedang gagas dan gencarkan di seluruh cabang se-nusantara, sebab zaman teknologi yang maraknya berita hoax, kurangnya lapangan kerja, menuntut kita untuk profesional dan kreatif menciptakan usaha mandiri, serta integritas dan keterampilan atau skill lain untuk menunjang KOHATI untuk menapaki dunia pasca mahasiswa.

HMI-KOHATI adalah organisasi dasar yang harus dikenyam oleh manusia yang duduk di bangku kuliah. Seperti anak tangga, HMI-KOHATI adalah anak tangga pertama yang harus kita lalui untuk menaiki anak tangga teratas, sebelum memasuki organisasi–organisasi lainnya, sebagai pembentukan karakter dan sistematika berpikir--mengibaratkan seperti batu loncatan, hingga melompat ke atas menggapai cita–cita dan asa.

Tak ingin bercerita tentang Indonesia dengan kompleksitas masalahnya, tak ingin mengulas kekisruhan dunia dengan segala konfliknya. Penulis mengajak para generasi Milenial dan generasi Z, untuk bersiap dari sekarang agar tak ketinggalan momen untuk selalu belajar. Mari berbenah diri, berbekal integritas, keahlian dan keterampilan, menuju generasi menjemput bonus demografi tahun 2020-2030 menuju KOHATI BERSIAP (Bersinergi, Berintegritas, Produktif).

Tags