22 April 2017 01:00 WITA

SDN 2 Unggulan Maros Diduga Tarik Dana Liar Bagi Siswa Baru

Editor: Almaliki
SDN 2 Unggulan Maros Diduga Tarik Dana Liar Bagi Siswa Baru

RAKYATKU.COM, MAROS -  Penerimaan siswa baru tingkat Sekolah Dasar di SD 2 Unggulan Maros, disinyalir terindikasi pungutan liar (Pungli). Pungli tersebut dikemas dalam bentuk sumbangan 'wajib' bagi siswa SD, yang dinyatakan lulus oleh pihak sekolah. 

Informasi yang dihimpun, sumbangan yang dipungut bervariasi, mulai dari Rp200 ribu hingga Rp2,5 juta.

Salah seorang orang tua siswa yang enggan disebutkan namanya, mengaku, ia mendaftarkan anaknya di SDN 2 Unggulan Maros.

Setelah dinyatakan lulus, pihak orang tua diundang untuk diwawancara, dan dimintai keterangan terkait pemberian sumbangan.

"Jadi saat anak kita lulus, kita diundang untuk ikut wawancara. Pihak Komite menjelaskan, kalau ada sumbangan, nilainya disesuaikan kemampuan, dan tidak dipatok. Bahkan ada siswa yang hanya menyumbang Rp500 ribu," jelasnya.

Pengakuan pihak Komite, lanjutnya, pungutan itu peruntukkannya untuk membeli bangku di kelas satu, dan pembangunan musalla.

"Mereka juga bilang, sumbangan ini untuk membeli kursi untuk anak kelas satu. Karena sebelumnya, kursinya kursi plastik, jadi mau diganti dengan yang kayu. Juga untuk pembangunan musalla," paparnya.

Sementara Kepala Sekolah (Kasek) SDN 2 Unggulan Maros, Halimah Tahang di ruangannya menegaskan, jika pihaknya sama sekali tidak melakukan pungutan liar.

Dia mengatakan, sumbangan siswa baru itu dipungut oleh Komite. Sedangkan pihak sekolah tidak memiliki campur tangan. Bahkan, kata dia, sumbangan itu merupakan kesepakatan antara pihak komite dengan orang tua siswa. 

"Jadi ini merupakan kesepatan antara komite dengan orang tua siswa. Jumlahnya juga bervariasi, mulai Rp200 hingga Rp2.500.000. Tapi bagi yang tidak mampu juga tidak dipungut," akunya.

Dia mengaku, sumbangan yang dipungut komite itu, untuk pengadaan bangku kelas 1, dan pemeliharaan musalla. Jumlah siswa yang akan diterima sebanyak 56 siswa.

Mengenai pembiaayaan dari dana BOS yang diterima sekolahnya, peruntukannya tidaklah mencukupi pembiayaan di sekolah. Katanya, ia hanya menerima Rp40 juta, sementara banyak item kebutuhan, seperti listrik, PDAM Wifi serta tenaga honorernya sebanyak delapan orang.