Sabtu, 07 Desember 2019 20:31 WITA

Direktur Kesenian Dirjen Kebudayaan RI Hadiri Dies Natalis Ke-59 FIB Unhas

Editor: Mays
Direktur Kesenian Dirjen Kebudayaan RI Hadiri Dies Natalis Ke-59 FIB Unhas
Suasana talkshow Relevansi Sejarah dan Budaya di Era Milenial di Aula Prof Mattulada, FIB Unhas.

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Sabtu, 7 Desember 2019. Gemulai tangan mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya Unhas, menarikan Tari Padduppa, di Aula Prof Mattulada, Fakultas Ilmu Budaya Unhas.

Tari itu, mengawali Seminar Series dan Talkshow Relevansi Budaya dan Sejarah di Era Milenial, dalam rangka Dies Natalis ke-59 Fakultas Ilmu Budaya Unhas. 

Usai itu, Dekan FIB Unhas Prof. Dr. Akin Duli, M.A, memberikan sambutan, mewakili Rektor Universitas Hasanuddin. Dia mengatakan, FIB adalah pusat pendidikan dan penelitian tentang kebudayaan. 

"Mahasiswa kami dengan berbagai minat dan bakatnya pun, tak lepas dari 10 objek pemajuan kebudayaan," ungkapnya.

Mereka lanjut Prof Akin Duli, turut andil dalam menjaga situs-situs kebudayaan. Menjaga tradisi lewat penciptaan tari-tari kreasi, yang idenya bersumber dari budaya Sulawesi Selatan. 

"Rasanya setiap sore hari, bunyi tabuhan gendang dan lengking suara pui-pui, pasti mengema di fakultas ini," lanjutnya.

Setelah acara ini dibuka resmi, dilanjutkan dengan agenda utama. Sebagai Keynote Speaker, Direktur Kesenian Dirjen Kebudayaan RI, Dr. Restu Gunawan, M.Hum. 

Dr Restu membincang tentang Kaum Milenial; Antara objek dan subjek pemajuan kebudayaan. 

Direktur Kesenian Dirjen Kebudayaan RI Hadiri Dies Natalis Ke-59 FIB Unhas

Kegiatan ekonomi berbasis proses dan produk kebudayaan kata dia, semakin besar kontribusinya dalam perekonomian dunia. Pembangunan yang memperhatikan konteks kebudayaan masyarakat, lebih terjamin keberlanjutannya. 

"Ke semua hal tersebut, baik produk kebudayaan dan kontribusi, semua itu adalah yang paling dominan adalah mereka kaum milenial," tambahnya.

Dilanjutkan dengan talkshow Relevansi Sejarah dan Budaya di Era Milenial. Para pembicara, Dr. Muhlis Hadrawi (Ketua Departemen Sastra Bugis-Makassar), Dr. Suriadi Mappangara (Dosen Sejarah Unhas sekaligus tim TP2G SulSel), Dr. Ilham (Ketua Prodi S2 Sejarah Unhas), Meta Puji Astuti, Ph.D., (Ketua Departemen Sastra Jepang Unhas), Muh. Natsir, M.Si., (Ketua IKA Ilmu Sejarah Unhas), Bakhtiar Said, M. AP.  (Mewakili Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Barru). Dipandu oleh Dr. Andi Faisal, dosen Sastra Prancis Unhas. 

Dr. Muhlis Hadrawi membincang tentang penggalian nilai-nilai pendidikan anak, melalui sumber manuskrip, tradisi lisan elong dan lontarak. 

loading...

Menurut Muhlis, tinggalan tersebut adalah sebuah harta karun ilmu pengetahuan, sebuah kearifan hidup. 

Pengalaman-pengalaman hidup bijak masa lampau lanjut dia, kemudian dipotret dalam sebuah tradisi lisan, elong dan termaktub di dalam lontaraq. 

"Inilah tugas kita untuk kembali mengolah pengalaman-pengalaman tersebut, agar nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak disalahpersepsikan oleh generasi milenial," bebernya. 

Dr. Suriadi Mappanggara sebagai Tim TP2G Sulsel, membincang tentang semangat nasionalisme, bagaimana nasionalisme dalam paham setiap zaman. 

"Tentunya sangat jauh berbeda, paham nasionalisme masa perjuangan, masa pembangunan dan masa milenial seperti sekarang," ungkapnya.

Sebab lanjut dia, keadaan akan turut menentukan seperti apa paham dan semangat nasionalisme tersebut, kemudian mengalir dalam darah kita semua. 

Meta Puji Astuti, Ph.D., memaparkan tentang bagaimana pola asuh masyarakat Jepang, dalam menyiapkan generasi cemerlang. 

Dr. Ilham membincang tentang relevansi sejarah dalam penataan Kota Makassar. Bakhtiar Said tentang beberapa persoalan tentang kesejarahan, dan Muh. Natsir, M.Si., membincang tentang strategi pembangunan kebudayaan daerah.

Para peserta sangat antusias mendengar dan bertanya, saat sesi tanya jawab dibuka. 

Apalagi, para peserta seminar 90 persen adalah mahasiswa dan selebihnya adalah alumni. 

"Kegiatan ini terselenggara atas kerjasama Panitia Dies Natalis ke-59 dan Ikatan Alumni Ilmi Sejarah (IKAJIS) Fakultas Ilmu Budaya Unhas," tutup Andi Lili Evita, sebagai ketua panitia seminar series dan talkshow budaya ini.

Loading...
Loading...