Selasa, 19 November 2019 10:44 WITA

Milad Muhammadiyah, Dekan FKIP Unismuh Akui Minat Baca Masih Kurang

Penulis: Muh. Ishak Agus
Editor: Aswad Syam
Milad Muhammadiyah, Dekan FKIP Unismuh Akui Minat Baca Masih Kurang
Dekan FKIP Universitas Muhammadiyah Makassar, Erwin Akib Ph.D.

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Persyarikatan Muhammadiyah telah berusia 107 tahun. Seluruh warga Muhammadiyah, turut bahagia atas usia organisasi yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan itu.

Salah satunya, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Makassar, Erwin Akib Ph.D. Dia berharap, Muhammadiyah kembali meneguhkan identitas Muhammadiyah sebagai gerakan ilmu.

"Ini sejalan dengan tema Milad ke-107 Muhammadiyah, yang mencerdaskan kehidupan bangsa," kata Erwin, Selasa (19/11/2019).

Menurutnya, tema tersebut merupakan penegasan khittah perjuangan Muhammadiyah, sejak dilahirkan hingga kini. Dari sejak awal kelahiran Muhammadiyah, lanjut Erwin, Muhammadiyah telah meneguhkan diri sebagai gerakan ilmu. 

Hal tersebut diwujudkan dalam bentuk pengajian, pendirian sekolah/kampus dan penerbitan majalah.

"Bahkan menurut sejarawan Taufiq Abdullah, tiga kata dalam pembukaan UUD 1945, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa yang merupakan usulan para tokoh Muhammadiyah di Badan Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia," jelas Erwin.

Oleh karena itu, sebagai pencetus gagasan, sambung Erwin, Muhammadiyah perlu memberi contoh dengan melakukan penguatan SDM ke seluruh komponen persyarikatan Muhammadiyah.

Sayangnya, ungkap Dekan FKIP Unismuh ini, setelah 107 tahun ide tersebut dikumandangkan, tampaknya habitat tempat Muhammadiyah tumbuh dan berkembang, belum beranjak jauh.

Loading...

"Bangsa ini masih memiliki budaya keilmuan yang rendah. Misalnya rendahnya budaya baca, minimnya produktivitas karya ilmiah, dan kreativitas teknologi,” jelas alumni S3 Universitas Teknologi Malaysia ini.

Erwin menjelaskan, lemahnya budaya ilmiah menyebabkan bangsa Indonesia tidak mampu mengeksplorasi kekayaan alam semaksimal mungkin, membangun keadaban publik, melahirkan produk budaya yang unggul, dan menggunakan teknologi secara produktif.

"Kelemahan dalam budaya keilmuan juga menyebabkan sebagian warga bangsa sering bertindak tidak rasional, primordial yang sempit, dan beragam perilaku klenik atau mistis yang mematikan akal sehat,” katanya.

Oleh karena itu, Muhammadiyah harus terus melanjutkan kontribusi riil dalam pembangunan bangsa. Termasuk penguatan kapasitas SDM di berbagai pelosok, seperti wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar.

Menurutnya, bangsa Indonesia perlu membangun keunggulan dengan mengembangkan masyarakat ilmiah melalui budaya baca, menulis, berpikir rasional, bertindak strategis, dan menggunakan teknologi untuk hal-hal yang positif dan produktif.

"Hemat saya, hanya Muhammadiyah yang bisa membantu negara mewujudkan itu," tutupnya.

Loading...
Loading...