Jumat, 25 Oktober 2019 11:02 WITA

UKM Seni Katarsis Polinas Makassar Tampil di FTMI se-Sulsel

Penulis: Febrina Rahayuni
Editor: Adil Patawai Anar
UKM Seni Katarsis Polinas Makassar Tampil di FTMI se-Sulsel

RAKYATKU.COM - Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni Katarsis menjadi salah satu kontingen di Festifal Teater Mahasiswa Indonesia (FTMI) XV se-Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat yang akan digelar pada 23 Oktober – 1 November 2019 di kampus IAIN Palopo. 

FTMI XV ini akan dihadiri oleh 28 Kontingen dengan jumlah peserta antara 500 sampai 600 orang yang berasal dari kampus yang tersebar di Sulsel-bar.
Ini pengalaman kali kedua bagi UKM Seni Katarsis Polinas untuk ikut sebagai peserta pada ajang FTMI, sebelumnya UKM Katarsis Polinas juga tampil sebagai peserta di FTMI XIV yang diselenggarakan di UIN Alauddin Makassar. 

Sebagai UKM seni yang masih tergolong ‘belia’, tampil di panggung FTMI merupakan pencapaian yang luar biasa mengingat kontingen-kontingen yang ikut bertarung di panggung FTMI merupakan UKM-UKM yang telah lama eksis dan kenyang akan pengalaman manggung.

UKM Seni Katarsis Kamis (24/10/19) bertolak ke Kota Palopo, kontingen UKM Katarsis dilepas langsung oleh Direktur Polinas Makassar di aula kampus. Beberapa pesan-pesan yang dititipkan oleh Direktur Polinas semoga menjadi semangat bagi para kontingen Polinas untuk memberikan penampilan maksimal dan mengharumkan nama almamater.

UKM Seni Katarsis Polinas Makassar Tampil di FTMI se-Sulsel

Loading...

UKM Seni Katarsis berangkat ke Palopo di dampingi oleh pembinanya Delukman S.Hum.,M.Hum. Delukman sendiri merupakan inisiator terbentuknya UKM Katarsis ini dan berkat kemampuan, pengalaman serta tangan dinginnya mampu membawa UKM Seni Katarsis tampil di panggung FTMI XIV dan FTMI XV. 

Pada FTMI XV ini, Delukman sendiri yang menuliskan naskah serta melatih kontingen Polinas yang tergabung dari mahasiswa/I berbagai Prodi. Delukman mengatakan tahun ini Katarsis akan menampilkan naskah teater yang berjudul SANRO. 

"Sanro merupakan naskah yang diadopsi dari kebiasaan masyarakat Indonesia yang masih percaya pada kekuatan-kekuatan magis. Teater ini banyak memperdebatkan masalah kebenaran, yaitu kebenaran yang dipahami sanro, wanita, istri, suami dan pemulung", pungkas Delukman.

Loading...
Loading...