Rabu, 03 Juli 2019 12:03 WITA

Jauh-Jauh dari Tanjung Pinang, Dua Calon Mahasiswa STIBA Dapat Kesempatan Ujian Susulan

Editor: Abu Asyraf
Jauh-Jauh dari Tanjung Pinang, Dua Calon Mahasiswa STIBA Dapat Kesempatan Ujian Susulan
Suasana ujian tulis calon mahasiswa STIBA di Masjid Anas bin Malik, Rabu (3/7/2019). (FOTO: DOK STIBA)

RAKYATKU.COM - Dua calon mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar dipastikan telat mengikuti ujian seleksi. Tes telah berlangsung hari ini, Rabu (3/7/2019) mulai pukul 08.00 wita.

Sementara dua calon mahasiswa asal Tanjung Pinang, Kepulauan Riau masih dalam perjalanan naik kapal. Pagi ini, kedua pemuda bernama Sahman dan Agung Sutrisno itu baru tiba di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Kakak kandung Sahman yang juga pembina Ponpes Imam Syafi'i Tanjung Pinang, Ustaz Lukman berharap ada kebijakan dari panitia penerimaan mahasiswa baru (PMB). Minimal diberi kesempatan untuk mengikuti ujian susulan.

Harapan itu bersambut. Ketua PMB STIBA, Imran Yunus Lc menyatakan siap memberi kesempatan ujian susulan. "Insya Allah," kata Ustaz Imran kepada Rakyatku.com, Rabu pagi (3/7/2019).

Hari ini, 956 calon mahasiswa tahun ajaran 1440-1441 H/2019-2020 mengikuti ujian tulis dan wawancara. Mereka terdiri atas 471 laki-laki dan 485 perempuan. 

Sebenarnya, pendaftar tercatat 1.697 orang. Meningkat 239 orang jika dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 1.458. Namun, hanya 956 orang yang dinyatakan lulus validasi berkas.

Ustaz Imran Yunus mengatakan, setelah mempertimbangkan kapasitas gedung kelas maupun asrama serta jumlah dosen, tahun ini STIBA hanya akan menerima sebanyak 660 mahasiswa dan mahasiswi.

Ujian tulis calon mahasiswa laki-laki berlangsung di Masjid Anas bin Malik. Sementara perempuan di gedung Aisyah.

Ada lima kategori soal yang diujikan dalam tes tulisan, yaitu akidah, fikih, bahasa Arab, tes potensi akademik, hadis, dan Alquran. 

Sedangkan tes wawancara meliputi jumlah hafalan Alquran, kemampuan membaca Alquran dan kitab berbahasa Arab, kemampuan bercakap dalam bahasa Arab, akidah, dan lainnya.

Selain ujian tertulis dan lisan, panitia PMB juga akan melakukan tes kesehatan pada 9 Juli 2019 bagi camaba yang dinyatakan lulus. 

Jauh-Jauh dari Tanjung Pinang, Dua Calon Mahasiswa STIBA Dapat Kesempatan Ujian Susulan

Naik Kapal ke Makassar

Sebelumnya diberitakan, dua calon mahasiswa STIBA asal Tanjung Pinang, Kepulauan Riau harap-harap cemas. Mereka baru tiba di Makassar setelah ujian berlangsung.

Loading...

Dua pemuda bernama Sahman dan Agung Sutrisno butuh waktu berhari-hari. Mereka naik kapal. Bertolak dari Pelabuhan Sri Bintan Pura pada Sabtu dini hari (29/6/2019) sekitar pukul 01.00 WIB.

Normalnya, perjalanan ke Makassar ditempuh dalam waktu lima hari. Diperkirakan tiba di Makassar Rabu pagi (3/7/2019). Mereka mengejar untuk bisa ikut ujian di STIBA Makassar.

Ternyata ada kendala dalam perjalanan. Kapal yang mereka tumpangi sempat mengalami masalah. Sudah begitu, kapal tersebut harus singgah di beberapa kota. 

Pada Senin (1/7/2019), kapal itu baru bergerak dari Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta menuju Surabaya.

Sahman adalah alumni SMA Alquran Wahdah Islamiyah Cibinong Bogor. Dia duduk sampai kelas tiga di sana sebelum ikut ujian persamaan di salah satu SMA di Tanjung Pinang.

Sementara Agung Sutrisno adalah mahasiswa semester akhir Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjung Pinang. Dia sisa menunggu prosesi wisuda sarjana. 

Agung tertarik untuk memperdalam ilmu agama. Makanya, dia memilih melanjutkan pendidikan di STIBA, walau sama-sama strata satu (S1).

Pembina Ponpes Imam Syafi'i Tanjung Pinang, Ustaz Lukman mengatakan, Agung Sutrisno saat ini juga menjabat ketua Lembaga Amil Zakat Infak dan Sedekah (LAZIS) Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau.

Keduanya aktif tarbiyah. Sahman sudah setahun tarbiyah. Sementara Agung aktif sejak dua tahun terakhir. Murobbinya, Ustaz Lukman yang asli Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara. 

"Dalam tabiyah itu, kami memotivasi mereka untuk menuntut ilmu di pusat pendidikan Wahdah Islamiyah di Makassar. Ternyata mereka tertarik," kata Ustaz Lukman yang juga kakak kandung Sahman.

Mereka kemudian memutuskan berangkat ke Makassar dengan tekad bulat. Selain menghemat biaya, kedua pemuda ini berangkat dengan kapal untuk merasakan perjuangan menuntut ilmu.

Perjalanan dari Tanjung Pinang ke Makassar sebenarnya bisa lewat pesawat. Namun, biayanya tidak murah. Paling murah Rp2.107.000. Dengan kapal laut, tarifnya jauh lebih rendah.
 

Loading...
Loading...