Selasa, 02 Juli 2019 21:26 WITA

Naik Kapal dari Tanjung Pinang, Dua Calon Mahasiswa STIBA Ini Harap-Harap Cemas

Editor: Abu Asyraf
Naik Kapal dari Tanjung Pinang, Dua Calon Mahasiswa STIBA Ini Harap-Harap Cemas
Suasana daurah orientasi mahasiswa baru STIBA Makassar beberapa waktu lalu. (FOTO: DOK STIBA MAKASSAR)

RAKYATKU.COM - Dua pemuda Tanjung Pinang, Kepulauan Riau harap-harap cemas. Tekad kuat untuk menuntut ilmu di STIBA Makassar bisa gagal. Mereka diperkirakan baru tiba setelah ujian berlangsung.

Tanjung Pinang adalah ibu kota Provinsi Kepulauan Riau. Letaknya berdekatan dengan Singapura. Bila menggunakan kapal feri, waktu tempuh hanya dua jam.

Sementara menuju Makassar, dua pemuda bernama Sahman dan Agung Sutrisno butuh waktu berhari-hari. Mereka naik kapal. Bertolak dari Pelabuhan Sri Bintan Pura pada Sabtu dini hari (29/6/2019) sekitar pukul 01.00 WIB.

Normalnya, perjalanan ke Makassar ditempuh dalam waktu lima hari. Diperkirakan tiba di Makassar Rabu pagi (3/7/2019). Mereka mengejar untuk bisa ikut ujian di STIBA Makassar.

Ternyata ada kendala dalam perjalanan. Kapal yang mereka tumpangi sempat mengalami masalah. Sudah begitu, kapal tersebut harus singgah di beberapa kota. 

Pada Senin (1/7/2019), kapal itu baru bergerak dari Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta menuju Surabaya.

Sahman adalah alumni SMA Alquran Wahdah Islamiyah Cibinong Bogor. Dia duduk sampai kelas tiga di sana sebelum ikut ujian persamaan di salah satu SMA di Tanjung Pinang.

Sementara Agung Sutrisno adalah mahasiswa semester akhir Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjung Pinang. Dia sisa menunggu prosesi wisuda sarjana. 

Agung tertarik untuk memperdalam ilmu agama. Makanya, dia memilih melanjutkan pendidikan di STIBA, walau sama-sama strata satu (S1).

Loading...

Pembina Ponpes Imam Syafi'i Tanjung Pinang, Ustaz Lukman mengatakan, Agung Sutrisno saat ini juga menjabat ketua Lembaga Amil Zakat Infak dan Sedekah (LAZIS) Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau.

Keduanya aktif tarbiyah. Sahman sudah setahun tarbiyah. Sementara Agung aktif sejak dua tahun terakhir. Murobbinya, Ustaz Lukman yang asli Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara. 

"Dalam tabiyah itu, kami memotivasi mereka untuk menuntut ilmu di pusat pendidikan Wahdah Islamiyah di Makassar. Ternyata mereka tertarik," kata Ustaz Lukman yang juga kakak kandung Sahman.

Mereka kemudian memutuskan berangkat ke Makassar dengan tekad bulat. Selain menghemat biaya, kedua pemuda ini berangkat dengan kapal untuk merasakan perjuangan menuntut ilmu.

Perjalanan dari Tanjung Pinang ke Makassar sebenarnya bisa lewat pesawat. Namun, biayanya tidak murah. Paling murah Rp2.107.000. Dengan kapal laut, tarifnya jauh lebih rendah.

Akankah keduanya akan mendapat kompensasi, yakni ikut ujian susulan? Belum ada keterangan resmi dari panitia penerimaan mahasiswa baru STIBA.

Rakyatku.com mencoba menghubungi Ketua Panitia PMB STIBA, Muhammad Imran Yunus Lc. Namun, belum berhasil hingga berita ini diterbitkan.

Loading...
Loading...