Rabu, 02 Januari 2019 10:08 WITA

Kuliah Perdana STIBA, Pakar Urai Kontroversi dalam Penulisan Sejarah

Editor: Abu Asyraf
Kuliah Perdana STIBA, Pakar Urai Kontroversi dalam Penulisan Sejarah
Pakar sejarah, Dr H Irwan Abbas, SS, MHum (kiri) menjadi narasumber pada kuliah perdana semester genap STIBA, Senin (31/12/2018).

RAKYATKU.COM - Kuliah perdana atau diistilahkan Haflah Iftitah Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) menghadirkan pakar sejarah, Dr H Irwan Abbas, SS, MHum.

Kuliah perdana semester genap kali ini berlangsung Senin, 24 Rabiul Akhir 1440 H bertepatan 31 Desember 2018. Irwan Abbas adalah alumni program doktor Pendidikan IPS Sejarah IKIP/UPI Bandung.

Dosen tetap di Universitas Khairun Ternate ini membawakan orasi berjudul "Mengapa Sering Terdapat Kontroversi dalam Penulisan Sejarah".

Ustaz Irwan Abbas mengemukakan, di antara penyebab terjadinya kontroversi dalam penulisan sejarah adalah karena perkembangan sejarah sangat ditentukan banyaknya penelitian sejarah yang dilakukan oleh para sejarawan. 

Munculnya fakta-fakta baru yang didapatkan dari hasil penelitian sejarah tersebut akan melahirkan interpretasi-interpretasi baru pada hasil rekonstruksi berdasarkan fakta-fakta sejarah yang baru.  

Karena itu, menurut Ustaz Irwan, penelitian-penelitian sejarah haruslah terus dikembangkan demi menyempurnakan dan melengkapi penelitian-penelitian sejarah sebelumnya.

Loading...

Ustaz Irwan menambahkan, tulisan sejarah yang berkembang di tanah air, suka atau tidak suka, penuh dengan berbagai kontroversi. Tapi bagi dia, hal tersebut bukanlah hal yang harus dipaksakan berlebihan seakan-akan beranggapan bahwa tulisan sejarah itu tidak boleh berbeda sama sekali.

"Kontroversi dalam sejarah adalah hal yang wajar dan biasa saja, bergantung fakta dan interpretasi yang ada," katanya.

Akademisi kelahiran Gowa ini menyebutkan beberapa contoh kontroversi dalam penulisan sejarah NKRI. Di antaranya adalah sejarah masuknya Islam di Indonesia. Tokoh-tokoh seperti Sisingamangaraja dan Pattimura yang selama ini diklaim beragama non-Islam.

Lalu, foto RA Kartini dan Cut Nyak Dien yang dalam sejarah dikenal tidak berjilbab, penetapan 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional, Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, dan siapa dalang peristiwa Gerakan 30 September PKI.

Loading...
Loading...