Rabu, 26 Desember 2018 16:02 WITA

Mulai 2019, Ketua OSIS Bebas Tes Masuk Unhas

Penulis: Himawan
Editor: Mulyadi Abdillah
Mulai 2019, Ketua OSIS Bebas Tes Masuk Unhas
Foto: IST

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Ini kabar gembira bagi siswa SMU/SMK yang menjabat Ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). 

Mulai tahun ajaran 2019/2020, mereka bisa bebas tes masuk Universitas Hasanuddin (Unhas). Program ini tertuang dalam Surat Keputusan Rektor Universitas Hasanuddin Nomor 5918/UN4.1/KEP/2018. 

Wakil Rektor Unhas Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Prof Arsunan Arsin mengatakan, terobosan ini tercipta karena Unhas merupakan lembaga pendidikan yang ikut memikirkan soal regenerasi kepemipinan bangsa. 

Untuk menciptakan regenerasi itu, salah satu upaya yang dilakukan Unhas ialah dengan merekrut Ketua Osis Sekolah Lanjutan Atas. 

"Bagaimanapun generasi sekarang ini harus dipersiapkan dengan baik untuk menerima estafet kepemimpinan bangsa ke depan. Potensi yang cukup strategis adalah dengan merekrut anak-anak bangsa yang sudah punya kapasitas kepemimpinan sejak dini, yakni ketua osis di sekolah lanjutan atas," kata Arsunan kepada Rakyatku.com, pada Rabu (26/12/2018).

Menurut Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas ini, Ketua OSIS sudah punya pengalaman dan karakter kepemimpinan. Sehingga setelah masuk di Unhas, para mahasiswa baru dari jalur ini akan ditempa bakat keorganisasiannya. 

"Dan tentunya tidak lupa juga kecerdasan akademiknya," sambungnya. 

Namun, jalur bebas tes ini bukannya tanpa persyaratan. Prof Arsunan mengatakan, untuk saat ini Ketua OSIS yang bebas tes masuk Unhas ialah mereka yang berasal dari sekolah yang memiliki peringkat terbaik di setiap Kabupaten/Kota. 

Selain itu, kuota ini hanya berlaku di 24 Kabupaten/Kota yang berada di Provinsi Sulawesi Selatan. Setiap sekolah hanya boleh mengutus satu calon mahasiswa yang pernah menjadi Ketua OSIS. 

"Persyaratannya adalah Ketua OSIS SMA/sederajat dengan peringkat sekolahnya terbaik di setiap kabupaten/kota. Tentu datanya ada di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan," pungkas Prof Arsunan.

Loading...