Minggu, 18 November 2018 15:55 WITA

Bikin Haru, Kisah Perjuangan Tukang Becak di Majane Raih Gelar S1

Editor: Nur Hidayat Said
Bikin Haru, Kisah Perjuangan Tukang Becak di Majane Raih Gelar S1
Muhammad Hamzah Amirullah, 26 tahun, mahasiswa program studi manajemen S1 pada Upacara Penyerahan Ijazah Lulusan Pascaserjana, Sarjana, dan Diploma tahap II - Tahun 2018 Universitas Terbuka Makassar mendadak haru, Minggu (18/11/2018).

RAKYATKU.COM, MAJENE - Upacara Penyerahan Ijazah Lulusan Pascaserjana, Sarjana, dan Diploma tahap II - Tahun 2018 Universitas Terbuka Makassar mendadak haru, Minggu (18/11/2018).

Upacara yang digelar di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Sulawesi Barat ini memperkenalkan salah satu mahasiswanya yang berprestasi dan patut menjadi panutan.

Dialah Muhammad Hamzah Amirullah, 26 tahun, mahasiswa program studi manajemen S1 dengan IPK 3,5. Bukan nilai akademiknya yang membuat orang bersimpati, tetapi pekerjaannya sebagi tukang becak. 

Uniknya, Hamzah menghadiri upacara itu tetap menggunakan becaknya. Tak lupa, sang ibu menemaninya dengan bangga. Meski jarak rumah di Jalan Tanjung Batu menuju tempat upacara sekira 6 kilo, Hamzah tak sedikitpun memperlihatkan kelelahannya.

Senyum kebanggaan terus terpancar di muka Hamzah. Di LPMP, becak Hamzah mendapat tempat khusus dengan terparkir di depan pintu masuk gedung upacara.

Di bagian tempat duduk, becak itu bertuliskan "Pa' Becak Bisa Tonji Wisuda". Di atasnya ada beberapa buku berdiri rapi dan siap untuk dibaca. Dari Hamzah, becaknya bernama Becak Mandar Pustaka.

Sebelum berangkat, pria berkulit sawo matang ini sempat bersitegang dengan ibunya, Nursamiah, 62 tahun. Sang ibu tidak bersedia datang. Ia tak ingin mempermalukan anaknya.

Bikin Haru, Kisah Perjuangan Tukang Becak di Majane Raih Gelar S1

Bukan karena kesehatan, sang ibu tak memiliki pakaian yang layak untuk menghadiri upacara itu.

"Jadi saya pagi-pagi ke rumah tetangga. Pinjam kerudung, pinjam kebaya, pinjam tas wanita, dan pinjam sandal. Alhamudilah ibu langsung mau ikut," kata Hamzah.

Hamzah merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara. Memiliki ayah sebagai nelayan yang serba kekurangan, Hamzah terbiasa mandiri. Terlebih dalam mencari rejeki. 

Apapun ia kerjakan, mulai dari membantu nelayan, memulung, tukang batu, jahit sandal sepatu, dan membantu pekerjaan-pekerjaan orang demi mendapatkan uang.

"Dari kecil saya sudah segan meminta uang. Kondisi keluarga kami yang serba kekurangan membuat kami berpikir bagaimana mendapatkan uang untuk mengurangi beban orang tua bukan untuk menambah beban Ayah," kata Hamzah.

Soal cita-cita, Hamzah saat ini tak ada keinginan khusus mau bekerja sabagai apa. Menurutnya pasca lulus ini, apapun ia akan kerjakan demi mewujudkan mimpinya membangun pendidikan literasi budaya yang ia sebut sebagai Kampung Mandar.

Menurutnya, seiring kemajuan teknologi informasi, budaya lokal pada beberapa daerah mulai tergeser. Bahkan banyak anak-anak sudah tidak mengenal tradisi dan bahasa nenek moyangnya.

Bikin Haru, Kisah Perjuangan Tukang Becak di Majane Raih Gelar S1

"Cita-cita saya hanya ingin membangun Kampung Mandar. Konsepnya seperti di Kediri Kampung Inggris. Di tempat itu kita hanya fokus pada budaya Mandar, mulai dari karya sastranya dan tradisi-tradisinya," jelasnya.

Sementara Ibu Hamzah, Nursamiah, 62 tahun, terus menitikkan air matanya saat diminta menggambarkan sosok anaknya.

Menurutnya, anak bungsunya itu berbeda dengan saudara-sauadaranya. Bahkan Hamzah tak pernah terpengaruh dari lingkungannya yang tidak memprioritaskan pendidikan.

Hamzah tahu betul bila pengahalang saudara-saudara mengeyam pendidikan karena faktor biaya. Untuk itu Hamzah dari kecil bekerja keras untuk bisa bersekolah. Hamzah bahkan selalu unggul dari teman-temannya. Terbukti anaknya itu selalu mendapat beasiswa-beasiwa karena prestasinya.

"Demi Allah, Nak. Semenjak Hamzah masuk SD sampai sekarang, tidak pernah saya kasi uang. Yang ada dia kasika uang. Apalagi meninggal mi bapaknya empat tahun lalu karena sakit. Selalu ma nakasi uang kodong," kata Nursamiah dengan bahasa campuran, Indonesia dan Mandar.

Bagi Nursamiah, Hamzah merupakan anak penurut. Bahkan Hamzah mengurungkan niatnya mewujudkan cita-citanya sebagai tentara karena permintaan ibunya. Nursamiah tidak ingin anaknya jauh darinya.

"Sangat penurut, bahkan kemarib saya tegur, nak mauki wisuda cukur sedikit rambut ta. Gondrong mi kuliat, tidak rapih kuliah," pungkasnya.

Kehadiran Hamzah di Upacara Penyerahan Ijazah UT Majene benar-benar mencuri perhatian. Bukan hanya karena becaknya, tetapi kerabat yang hadir.

Upacara itu tidak hanya dihadiri keluarga Hamzah, tetapi puluhan siswa-siwi SMKN 2 Majene. Pelajar itu setia mengawal becak Hamzah. Hamzah merupakan pembina Pramuka sekaligus alumnni SMKN 2 Majene. Hamka merupakan pendiri Organisasi Pramuka tersebut.