Rabu, 17 Oktober 2018 18:34 WITA

Gedung Megah UIT Makassar Kini Sunyi Nan Sepi di Siang Bolong

Penulis: Syukur - Azwar Basir
Editor: Mulyadi Abdillah
Gedung Megah UIT Makassar Kini Sunyi Nan Sepi di Siang Bolong
Gedung Kampus V UIT Makassar di Jalan Abdul Kadir. (Foto: IST)

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Hiruk pikuk di dua Gedung Universitas Indonesia Timur (UIT) Makassar sudah tak seperti dulu lagi. Tangga yang dulunya ramai dijejali mahasiswa, kini nampak lengang, Rabu (17/10/2018).

Di kampus II UIT Jalan Rappocini, sangat jarang mahasiswa yang mampir membeli di Pedagang Kaki Lima. Dulu, pesanan mahasiswa dikirim dengan menggunakan ember yang diikat tali kemudian diolor dari lantai atas. 

Pemandangan ini pasca beredar isu kampus UIT Makassar akan ditutup oleh Kemenristek Dikti. Kabar ini membuat mahasiswa dan dosen nelangsa. "Jarang sekali mahasiswa," ungkap salah satu mahasiswa yang ditemui di kampus II UIT Makassar. 

Kampus II tetap digunakan aktivitas belajar mengajar meski sebagaian perkuliahan Fakultas sudah dipindahkan ke kampus baru yang berada Jalan Abdul Kadir. Di lantai dasar, tertulis ruang perkuliahan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol). Namun, terlihat tak berpenghuni. Ruangan lainnya pun nampak kosong melompong.

"Tidak ada perkuliahan, sudah sejak dua bulan lalu. Tapi kalau urus pindah kampus ada pelayanan," ungkap salah satu mahasiswa yang ditemui di PK5 depan kampus II UIT.

Gedung Megah UIT Makassar Kini Sunyi Nan Sepi di Siang Bolong

Suasana kampus II UIT Makassar di Jalan Abdul Kadir, Rabu (17/10/2018) siang.

Tak hanya di Kampus II. Suasana di gedung kampus 5, Jalan Abdul Kadir yang begitu megah juga nampak lengang. Di lantai tiga, Fakultas Keperawatan hanya tiga orang mahasiswa berpakaian putih yang terlihat duduk di kursi. 

Mereka terlihat sibuk dengan berkas di tangan. Hanya mereka bertiga. Tak terlihat mahasiswa lainnya. 

"Masih ada pelayanan," jawab salah satu dari mereka dan menunjuk ruangan pelayanan Fakultas Keperawatan. 

Rakyatku.com lalu berjalan ke ruangan pelayanan Fakultas Keperawatan. Terlihat dua pegawai perempuan dan satu anak kecil dan satu mahasiwa yang sementara mengurus .

"Kalau persoalan pelayanan, yang bisa menjawab di yayasan. Silakan ke yayasan di (lantai) bawah," ungkap salah satu pegawai.

Belum Terima Maba

Salah seorang staf Yayasan UIT Makassar, Eda menepis kampus lengang. Kondisi kampus sunyi lantaran jarang jadwal kuliah.

"Mungkin karena jarang yang kuliah. Tapi perkuliahan tetap berjalan," ungkap Eda yang ditemani oleh satu staf perempuan lainnya. 

Menurutnya, ada enam jurusan yang melakukan perkuliahan di kampus 5 UIT. Diantaranya S1 jurusan Kebidanan, Analis Kesehatan, Keperawatan dan D3. Selebihnya, semua proses perkuliahan di kampus II. 

Gedung Megah UIT Makassar Kini Sunyi Nan Sepi di Siang Bolong

Suasana kampus V UIT Makassar di Jalan Abdul Kadir, Rabu (17/10/2018) siang.

Meski menyebut perkuliahan tetap jalan, Eda mengatakan bahwa untuk penerimaan mahasiswa baru hingga saat ini belum ada. "Perkuliahan jalan, kecuali kalau mahasiswa baru (maba) belum ada," tandasnya.

Merasa Dizalimi

Ancaman pencabutan izin perguruan tinggi karena UIT dianggap melanggar dan tidak layak sebagai perguruan tinggi swasta (PTS). Hal itu membuat pihak UIT geram. 

Humas UIT, Zulkarnain Hamson mengatakan, pihaknya telah dizalimi dan mendapatkan perlakuan diskriminasi. 
Menurutnya, jika UIT memiliki pelanggaran atau harus memenuhi beberapa persyaratan, maka harusnya Kemenristek Dikti turun tangan untuk memberikan pembinaan kepada UIT.

"Sudah dua bulan kami menunggu tim yang dijanjikan turun. Bukannya menurunkan tim malah mengancam. Kalau hanya sekadar wacana saja bahwa ada pelanggaran silakan periksa kembali. Dan, yang kami tunggu pembinaan bukan penzaliman," ujar Zulkarnain Hamson, kepada Rakyatku.com, Rabu (17/10/2018).

Ia pun meminta dengan tegas kepada Menristek Dikti menurunkan tim untuk memverifikasi bila memang UIT memiliki pelanggaran. Sebab, ada 3.146 mahasiswa dan 700 dosen serta karyawan yang berada di UIT Makassar.

"Kami tak suka dengan gaya sensasi. Kami minta tim turun periksa. Jangan hanya umbar wacana ada pelanggaran tetapi tidak pernah turun verifikasi," tuturnya.

"Kami disuruh membenahi data, tetapi pangkalan data kami ditutup. Katanya mau membina, tetapi bukannya mengarahkan, malah mengumbar di media. Itu bukan pembinaan tetapi penzaliman," katanya. 

Zulkarnain mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan jawaban atas perlakuan diskriminatif terhadap UIT selama ini. "Kami sudah persiapkan langkah sesuai ketentuan undang-undang jika mereka tidak memperhatikan prosedur dalam mengeluarkan sanksi," tuturnya. 

Ia menambahkan, UIT sudah menyusun tim yang akan diutus ke Kemenristek Dikti untuk memberikan penjelasan dan melawan pencabutan izin pendirian perguruan tinggi UIT. 

"Tim hukum kami terdiri dari Forum Advokasi Dosen dan LBH Universitas sudah mengeluarkan telaah hukum yang akan kami bawa ke menteri. Bersama itu turut serta memberi pernyataan sikap 35 elemen UIT ditambah masyarakat sekitar kampus intinya menolak rencana pencabutan izin UIT," bebernya.

Langkah LLDikti

Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah IX Sulawesi, akan mengambil langkah-langkah untuk menyelamatkan ribuan mahasiswa-mahasiswi UIT.

Ketua LL Dikti wilayah IX Prof Jasruddin mengatakan, mahasiswa UIT telah menjalin kesepakatan dengan direktur pengembangan kelembagaan Ristekdikti. Kesepakatannya, yaitu mahasiswa UIT akan diurus untuk pindah ke perguruan tinggi swasta yang layak. 

"Untuk bisa pindah kami harus punya data yang akurat karena perguruan tinggi swasta tidak akan menerima mahasiswa kalau datanya di Dikti tidak lengkap karena kapan dia pindah tanpa data yang tidak lengkap maka dia akan bermasalah," ujar Prof Jasruddin. 

Oleh sebab itu, LLDikti telah membentuk tim untuk verifikasi data mahasiswa UIT yang akan dipindahkan ke perguruan tinggi yang layak.

"Data itu kami pertanggungjawabkan keakuratannya,  dan kami akan tawarkan ke perguruan tinggi swasta yang lain," katanya. 

Dalam proses pemindahan mahasiswa UIT tersebut ke perguruan tinggi swasta yang lain, tidak dibebankan biaya sepeserpun.

"Kami akan mengurus mahasiswa yang mau pindah, dan mencarikan perguruan tinggi yang mau terima. Dengan salah satu konsekuensi tidak boleh bayar apapun untuk biaya pemindahan kecuali pembayaran SPP," tegasnya. 

Saat ini katanya, pihaknya telah melakukan pengumpulan data mahasiswa UIT, karena LLDikti harus memiliki data valid yang bisa dipertanggungjawabkan kepada perguruan tinggi swasta yang siap menerima mahasiswa. 

"Kami tidak akan menawarkan mahasiswi kepada perguruan tinggi kalau kami tidak punya data akurat yang bisa kami pertanggungjawabkan. Dan  kami  berjanji memfasilitasi untuk bernego dengan perguruan tinggi swasta yang ada dan kita berupaya supaya ada yang mau terima mahasiswa dari UIT tersebut," jelasnya. 

Katanya, sejauh ini sudah ada kampus yang mau terima, namun ada juga beberapa kampus yang belum mau menerima mahasiswa dari UIT tersebut.

Untuk pengumpulan data mahasiswa, LL Dikti tidak akan menggunakan data dari pangkalan data Dikti karena menurutnya banyak mahasiswa UIT yang belum terdaftar di pangkalan data Dikti karena UIT tiga tahun terakhir di berikan sanksi untuk tidak memasukan data mahasiswa ke pangkalan data Dikti. 

"Jadi data yang akan kami pakai nantinya yaitu data manual dari UIT, kami juga sampaikan kepada adek adek di UIT untuk siapkan data mu kalau kita tidak bisa mendapatkan data di UIT, data itu akan kita akomodir ketika mereka punya data sendiri. Proses pemindahan ini kami harap tidak sampai memakan waktu 22 hari," tutupnya.