Jumat, 14 September 2018 09:01 WITA

Konsultasi Proposal 14 Kali, Mahasiswa UNM Ini Malah Disuruh Pindah Kampus

Editor: Ibnu Kasir Amahoru
Konsultasi Proposal 14 Kali, Mahasiswa UNM Ini Malah Disuruh Pindah Kampus
Gedung Kampus Universitas Negeri Makassar. Ist

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Malang nian nasib Filtra Absri. Dia terpaksa harus pindah kampus, lantaran dugaan dendam kesumat dosennya. Itta, panggilannya akrabnya, sampai saat ini masih berstatus mahasiswa aktif Program Studi (Prodi) Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Negeri Makassar (UNM).

Namun, di ujung masa aktifnya di kampus, mahasiswa semester 14 itu harus mengelus dada. Ketua Prodinya, Sitti Hajerah Hasyim yang juga Pembimbing II skripsi, ogah menyetujui proposal penelitiannya.

"Padahal saya sudah konsultasi 14 kali, sejak September 2017 sampai Agustus 2018. 14 kali pertemuan itu tidak termasuk kalau pertemuan saya yang ditolak atau tidak dilayani," kisah Itta, saat ditemui di Kampus UNM Gunung Sari, Jalan AP Pettarani, pada Kamis (13/9/2018) kemarin.

Itta mensinyalir dendam Hajerah, lantaran ia bersama rekan-rekannya di lembaga kemahasiswaan, sempat melakukan demontrasi pada tahun 2016 lalu. Saat itu, kata Itta, Hajerah dinilai melakukan intimidasi nilai akademik kepada mahasiswa yang melakulan kegiatan pengaderan.

"Tapi saya sudah pergi minta maaf beberapa kali. Terkahir Ibu Hajerah katakan, bisa asalkan saya mau ikut semua arahannya. Dan saya juga menyanggupi," kenangnya.

Namun, lanjut Itta, konsultasi yang dilakukan sejak September 2017 hingga Agustus 2018 dengan total pertemuan ke-13 kalinya, belum menuai hasil. Bahkan, sang dosen hanya meminta agar orang tua Itta untuk menemuinya.

"Jadi saya ajak Ibuku untuk datang. Saat itu Ibuku sakit, tapi tetap dengan terpaksa hadirkan, dengan alasan mungkin ini jalan satu-satunya supaya saya bisa selesai," ucap mahasiswa yang memiliki IPK 3,5 tersebut.

Lagi-lagi, bukannya solusi yang didapatkan, Itta malah mendapat pernyataan dari Hajerah yang membuatnya tercengang. 

"Dosen itu bilang ke Ibu saya: Anakta ini Filtra mau mi habis masanya (DO) di UNM pada tanggal 20 Agustus 2018, jadi kalau Filtra di DO ibu nanti saya yang tersudutkan oleh teman-teman dan mahasiswa ketika Filtra di DO, makanya lebih baik anakta ini ibu kusarankan untuk pindah kampus biar nilainya yang bagus-bagus ini dan memiliki IPK 3.58 tidak hanguski ibu, karena tidak ada juga masalahnya Filtra dari segi nilai mata kuliah ibu, hanya proposal penelitiannya yang bermasalah," urai Itta mengutip pernyataan Hajerah kala itu.

Mendengar pernyataan sang dosen, Itta mengenang, Ibunya akhirnya menitihkan air mata. "Sabar ki Ibu. Jangan ki menangis. InsyaAllah ada jalan itu Ibu," kata Itta menguatkan sang Ibu saat itu.

Upaya Itta belum surut usai Ibunya diperlakukan seperti itu oleh sang dosen. Ia menemui sejumlah pimpinan fakultas. "Dan saya juga sudah ketemu Pembantu Rektor UNM bidang akademik (PR I/Prof Muharram), tapi tetap tidak ada solusinya. Saya tetap diminta untuk urus pindah kampus saja," ucapnya.

Saat ini, Itta telah berupaya untuk meminta bantuan ke Ombudsman Sulsel. "InsyaAllah besok pagi saya dipanggil untuk dimintai keterangan lebih lanjut terkait laporan saya. Mudah-mudahan bisa memediasi saya untuk klarifikasi langsung ke pimpinan tertinggi UNM, dalam hal ini Pak Rektor, dan memberikan penilaian objektif," demikian Itta.