Kamis, 19 Juli 2018 20:39 WITA

Bukan Hanya Soal Etika, Ini Sebabnya Mahasiswa UNM Diskorsing

Penulis: Himawan
Editor: Fathul Khair Akmal
Bukan Hanya Soal Etika, Ini Sebabnya Mahasiswa UNM Diskorsing
Aksi protes mahasiswa di menara Pinisi UNM, Jalan AP Pettarani, Kamis (19/7/2018) siang tadi.

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Universitas Negeri Makassar kini memanas. Pasalnya, puluhan mahasiswa kampus ini melakukan aksi protes menolak sanksi skorsing yang diberikan kepada enam orang mahasiswa Fakultas Ekonomi beberapa waktu lalu. 

Aksi protes ini dilakukan di lobi menara Pinisi UNM di Jalan AP Pettarani, Kamis (19/7/2018) siang tadi. Aksi yang kesekian kalinya dilakukan usai birokrasi Fakultas Ekonomi menskorsing keenam mahasiswa itu. Aksi ini juga sebagai bentuk solidaritas terhada keenam mahasiwa fakultas ekonomi yang diskorsing itu. 

Menurut mereka, terbitnya SK skorsing bersifat semena-mena lantaran sang mahasiswa hanya sekadar mempertanyakan transparansi Paket Anggaran Pembelian Barang dan Jasa FE UNM tahun 2018 di lapangan FE UNM. SK tersebut cacat prosedural, menurut peserta aksi. 

"Ini membunuh suara-suara demokrasi. Makanya tidak salah kita membawa keranda mayat sebagai tanda matinya demokrasi di UNM,"kata Haerul, salah satu orator dalam aksi ini. 

Dari informasi yang dihimpun Rakyatku.Com, sanksi skorsing yang diberikan kepada enama mahasiswa UNM itu berbeda-beda. 

Supianto dan Oki Sanjaya diskorsing dua semester. Sementara empat mahasiswa lainnya, yakni Muammar, Sumartono, Irwan Nur, dan Imran diskorsing satu semester. 

Sementara itu Kepala Humas UNM, Dr. Burhanuddin menepis isu pemberian skorsing kepada enam mahasiswa Fakultas Ekonomi karena mempertanyakan transparansi paket anggaran barang dan jasa di Fakultas Ekonomi. Menurutnya, skorsing yang diberikan kepada enam mahasiswa itu lantaran permasalahan etika. 

"Ini masalah etika yang seharusnya mahasiswa tidak melakukannya. Kalaupun masalah transparansi anggaran bukan wewenang mahasiswa," kata Burhanuddin saat dikonfirmasi, Kamis (19/7/2018).

Burhanuddin mengatakan, penjatuhan sanksi itu, sudah melalui proses yang panjang. Ia juga mengatakan jika penasihat akademik enam mahasiswa itu sudah turun tangan untuk menasihati mereka. Tetapi keenam mahasiswa itu mengabaikannya. 

"Sudah dipanggil sama PA-nya untuk dinasehati, tapi diabaikan saja," imbuh Burhanuddin. 

Senada dengan Burhanuddin. Wakil dekan I Fakultas Ekonomi UNM, Tamrin Tahir, mengatakan selain melakukan pelanggaran etika, secara akademik keenam mahasiswa tersebut juga telah banyak melakukan kesalahan.

"Ini sudah melalui proses yang panjang sejak April lalu. Bukan hanya pelanggaran etika tapi secara akademik perolehan IPK mereka juga di bawah rata-rata, bahkan Pembimbing Akademik juga sudah menyerahkan mereka kembali ke Prodi," katanya. 

Meski tak menjelaskan etika seperti apa yang dilanggar, tetapi pernyataan wakil dekan FE ini juga ditanggapi oleh Dekan Fakultas Ekonomi, Muhammad Azis. Menurutnya, cara aksi mempertanyakan transparansi anggaran yang dilakukan oleh keenam mahasiswa itu sudah di luar batas. 

Pihak fakultas mengambil langkah tegas ini agar dapat memberikan efek jera kepada mahasiswa itu.

"Jadi bukan masalah demonya, mahasiswa berhak melakukan demo termasuk menuntut transparansi anggaran hanya saja harus dengan etika yang sesuai,"tuturnya. 

"Jadi hasil komdis kita senatkan kemudian kita putuskan untuk menerbitkan SK skorsing untuk memberikan efek jera karena melihat anak-anak sudah tidak mengikuti aturan akademik,"tambah Azis.

"Apalah arti aturan kalau masih diinjak-injak, aturan itu harus kita tegakkan. Sistem harus kita jalankan jangan ada pembiaran seperti ini,"pungkasnya.