Minggu, 15 Juli 2018 13:12 WITA

Unhas Teliti Dampak Perkawinan Sedarah di Pulau Lanjukang, Ini Hasilnya

Editor: Nur Hidayat Said
Unhas Teliti Dampak Perkawinan Sedarah di Pulau Lanjukang, Ini Hasilnya

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Tiga mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) melakukan penelitian perkawinan sedarah yang dilakukan oleh warga Pulau Lanjukang, Kelurahan Barrang Caddi, Kecamatan Sangkarrang, Makassar.

Penelitian ini merupakan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Fakultas Hukum yang didanai Kemenristek Dikti.

Ketiga mahasiswa angkatan 2016 itu ialah Lulu Anugrawati dan Sulfayanti dari Jurusan Hukum Adminsitrasi Negara Fakultas Hukum serta Irviyanti Putri Sarpin dari Fakultas Kesehatan Masyarakat. Mereka melakukan penelitian pada 5-10 Mei 2018 silam. 

Dalam penelitian yang dilakukan kepada sekitar 35-45 orang yang melakukan perkawinan sedarah/incest (warga yang diteliti yang menikahi sepupu satu kali) mereka menemukan warga Pulau Lanjukang mengalami kondisi cacat, seperti ciri-ciri cacat dwarfisme.

"Kami sudah survei dan wawancara hanya yang melakukan perkawinan sedarah saja yang menghasilkan anak yang cacat. Kami sudah bandingkan dengan warga yang lain yang tidak melakukan perkawinan sedarah dan hasilnya memang beda," kata Lulu kepada Rakyatku.com, Minggu (15/7/2018).

Unhas Teliti Dampak Perkawinan Sedarah di Pulau Lanjukang, Ini Hasilnya

Dari hasil survei yang dilakukan Lulu dan timnya dwarfisme yang ditemukan seperti tingginya yang hanya 120 hingga 140 cm, sedangkan pada orang normal, biasanya memiliki tinggi di atas 150 cm. Hal ini terjadi akibat kurangnya hormon pertumbuhan yang menyebabkan proses pematangan tulang menjadi terhambat. 

"Kondisi genetik juga menjadi salah satu pertimbangan sebelum menentukan apakah seseorang mengalami dwarfisme atau stunting," imbuhnya. 

Unhas Teliti Dampak Perkawinan Sedarah di Pulau Lanjukang, Ini Hasilnya

Lulu mengatakan, inti dari penelitiannya ini nantinya akan menghasilkan rekomendasi bagi pemerintah untuk memperhatikan dampak dari perkawinan sedarah ini. Hal ini disebabkan bila ditinjau dari segi medis perkawinan ini menimbulkan efek yang tidak baik bagi keturunan.

"Penelitian kami ini memberi pemerintah agar turut campur dalam masalah ini supaya tidak ada unsur pembiaran, di Pulau Lanjukang rata-rata orang di sana cacat. Apalagi di aturan hukum pasal 8 UU perkawinan menjelaskan perkawinan dilarang antar berhubungan darah dalam garis keturunan ke bawah dan ke atas, maupun ke samping," pungkasnya. 

Penelitian ini akan dipaparkan di depan perwakilan Kemenristek Dikti oleh tiga mahasiswa Unhas pada 16 hingga 17 Juli 2018.

Unhas Teliti Dampak Perkawinan Sedarah di Pulau Lanjukang, Ini Hasilnya