Senin, 02 Juli 2018 19:33 WITA

Wantimpres Kaji Kemajemukan Politik di Sulsel

Editor: Aswad Syam
Wantimpres Kaji Kemajemukan Politik di Sulsel
Tim Wantimpres dan pihak UIN Alauddin Makassar, mengkaji kemajemukan politik di Sulsel.

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Tim Kajian Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) yang dipimpin Prof Azyumardi Azra, melakukan kunjungan ke Sulawesi Selatan, untuk mengumpulkan data dan informasi seputar Kemajemukan Politik dan Masa Depan NKRI di Provinsi Sulawesi Selatan.

"Kunjungan tahun lalu (2017) kita membahas seputar sosial budaya, dan kajian tahun ini sengaja kita angkat tentang politik, karena tahun ini bisa dibilang tahun politik," ujarnya saat melakukan diskusi tentang Kemajemukan Politik dan Masa Depan NKRI, di ruang rapat rektor UIN Alauddin Makassar, Senin (2/7/2018).

Ia mengungkapkan, sejak Pilpres 2014 dan Pilkada DKI Jakarta 2017, telah terjadi benturan-benturan nilai yang tampak dan sangat terasa, terutama yang berkaitan dengan kehidupan sosial-kemasyarakatan, politik, dan hukum.

"Munculnya berbagai konflik sosial berlatar belakang agama dan etnik, seolah-olah menunjukkan makin kuatnya pengakuan terhadap eksistensi kelompok-kelompok yang mengemuka secara terbuka," katanya.

Ia mengungkapkan, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) sebagai salah satu daerah yang menjadi barometer kemajemukan berpolitik, menjadi tujuan studi Tim Kajian, karena Sulsel memiliki kehidupan sosial kemasyarakatan dan politik yang majemuk dan dinamis.

"Selain itu juga ada beberapa isu politik yang mengemuka beberapa waktu belakangan ini, seperti politik dinasti, potensi konflik/black campaign," imbuhnya.

Sementara itu, Rektor UINAM, Prof Musafir Pababbari mengatakan, diskusi ini bertujuan memperoleh informasi mengenai bentuk perwujudan kemajemukan politik dalam NKRI (studi kasus di Sulawesi Selatan), serta informasi mengenai jaminan dan komitmen masa depan NKRI dalam kemajemukan politik (studi kasus di Sulawesi Selatan).

"Hasil diskusi ini akan melahirkan gambaran bagaimana sebenarnya peta masalah yang dihadapi. Kita tahu, negara kita terdiri dari baragam suku, agama dan bidaya, jika tidak di manage dengan baik akan bisa berantakan," terangnya.

Diketahui, kegiatan itu turut dihadiri, WR III dari kampus UINAM, Unhas, UNM, dan UMI, segenap lingkup UINAM, serta ketua BEM dari sejumlah kampus di Makassar.